Tari Jaipong | Warisan Budaya dari Suku Terbanyak Kedua di Indonesia

Tari Jaipong
ayobandung.com

Tari Jaipong – Diantara beragamnya tarian tradisional di Indonesia, kata “Jaipong” pasti sudah tidak terdengar asing lagi di telinga masyarakat Indonesia.

Bagaimana tidak? Tarian ini berasal dari etnis atau suku terbanyak kedua yang ada di Indonesia, yakni Sunda. Berdasarkan data dari indonesia.go.id suku Sunda merupakan suku terbanyak kedua (15,5%) setelah Jawa.

Tari Jaipong berasal dari daerah Jawa Barat. Tarian ini terkenal dengan gerakan lenggak-lenggok penarinya yang membuat para penonton terhibur.

Gerakan pada tarian ini terkenal energik dan unik, ditambah dengan unsur gerakan humoris yang mengundang gelak tawa penonton. Banyak orang yang tanpa sadar ikut menari mengikuti gerak penari saat menyaksikan tari jaipong ini.


Sejarah Tari Jaipong


sabumiku.com

Tari jaipong lahir pada tahun 1970-an. Jika melihat sejarahnya, tarian ini merupakan gabungan dari dari beberapa kesenian tradisional Wayang Golek, Pencak Silat, dan Ketuk Tilu.

Itulah kenapa gerakan pada tari ini energik, ceria dan humoris. Ada dua nama besar yang disebut-sebut sebagai pencipta tari kebanggaan masyarakat Jawa Barat, yaitu Haji Suanda dan Gugum Gumbira.

Haji Suanda adalah seniman berbakat yang berasal dari Karawang. Beliau memiliki talenta yang besar, sehingga ia mampu menguasai beberapa kesenian tradisional dari beberapa daerah khususnya Karawang. Ketuk Tilu, Wayang Golek, Topeng Benjet, dan Pencak Silat adalah kesenian tradisional yang paling dikuasai Haji Suanda.

Pada tahun tahun 1976, Haji Suanda menggabungkan beberapa gerakan dari 3 kesenian yang ia kuasai tersebut. Dari penggabungan tersebut terciptalah sebuah karya seni yang unik dengan gerakan yang begitu enerjgk. Namun, pada saat itu pertunjukkan seni ini belum disebut dengan tari jaipong.

Pertunjukkan seni ini berhasil memikat minat banyak masyarakat sekitar. Ditambah dengan iringan jenis musik yang bertenaga seperti degung, gendang, gong, dan alat musik ketuk lainnya yang menambah keseruan pertunjukkan seni gabungan ini.

Tidak sampai disitu, pengiring suara yang biasa dikenal dengan sebutan Sinden semakin menambah keelokan tarian ini. Sampai saat ini suara khas Sinden menjadi ciri khas dan daya tarik tersendiri tarian ini.

Kemudian seorang seniman bernama Gugum Gumilar yang juga asli sunda menyukai gerakan tari yang diciptakan oleh Haji Suanda.

Setelah berhasil mempelajarinya Gugum Gumilar memperbarui kesenian tari tersebut dan menyebutnya dengan tari jaipong. Masyarakat menyambut dengan baik tarian ini, hingga pada tahun 1979 tari jaipong mulai dikenal oleh banyak orang.


Gerakan Tari Jaipong


Berbeda dengan tarian lainnya yang memiliki kesan lembut dan gemulai, tari jaipong tergolong jenis tari yang bertenaga. Meski begitu, tari ini juga bukan termasuk jenis tari yagn kasar. Tari jaipong tetap terasa indah dengan gerakannya yang sederhana dan energik saat ditonton.

1. Gerak Bukaan : sebagai gerakan pembuka, pada gerakan ini penari akan melakukan gerakan memutar sembari memainkan sebuah selendang yang ditaruh di lehernya dengan gerakan yang lemah gemulai dan mempesona.

2. Gerak Pencungan : gerakan ini memiliki tempo yang lebih cepat. Jadi, gerak pencungan harus diiringi oleh alunan musik yang lebih semangat. Tak jarang penonton ikut terbawa suasana dan ikut menari bersama karena gerakan ini.

Gerak Ngala : gerakan ini terlihat seperti patah-patah dari satu gerakan ke gerakan yang lain dengan tempo yang sangat cepat. Bagian ini merupakan gerakan yang paling khas dan banyak disukai penonton.

Gerak Mincit : gerak ini merupakan gerakan pindahan dari satu bentuk tari ke gerakan tari lainnya. Sekilas terlihat sama dengan gerakan ggala, sebetulnya gerakan mincit sangatlah berbeda.


Itu dia sedikit penjelasan mengenai tari jaipong yang merupakan tarian tradisional asal Jawa Barat ini. Semoga apa kumpulan ilmu bahas kali dapat menjawab pertanyaan teman-teman pembaca semua. Sampai jumpa di pembahasan berikutnya.

Nisalutfi
About Nisalutfi 176 Articles
"home is where the heart is"

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.