Rumah Adat Sulawesi Tengah, Keberagaman Bangunan dan Etnisnya

rumah adat sulawesi tengah
travel.detik.com

Rumah Adat Sulawesi Tengah –  Provinsi Sulawesi Tengah didiami oleh beberapa kelompok etnis atau suku bangsa. Dimana masing-masing etnis memiliki bangunan tradisionalnya sendiri-sendiri. Beberapa rumah adat yang ada di Sulteng, diantaranya adalah rumah adat tambi, lobo, buho, souraja dan baruga.


Rumah Adat Sulawesi Tengah


Provinsi Sulawesi Tengah beribu kota di Kota Paludengan luas wilayah sebesar 61.841,29 km². Jumlah total penduduknya sekitar 3.054.020 jiwa yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa.

Suku asli dari Sulawesi Tengah, diantaranya ada etnis Kaili, Bare’e, Pamona, Banggai, Saluan, Buol, Mori, Bungku, SUku Balantak, dan beberapa suku lainnya. Adapula suku pendatang yang juga mendiami wilayah SUlawesi Tengah, diantaranya Bugis, Jawa, Bali, Gorontalo, Minahasa, Sasak, Tionghoa, dan lainnya.

Banyaknya suku bangsa asli Sulteng itulah yang menjadikan budaya Sulawesi Tengah sangat beragam termasuk rumah adatnya. Setidaknya ada lima rumah adat khas Sulawesi Tengah, tiga diantaranya adalah:

Tambi

rumah adat sulawesi tengah
travel.detik.com

Bangunan rumah adat tambi yang unik ini memiliki ukuran alas sekitar 7 x 5 meter. Posisi rumahnya menghadap ke arah utara – selatan. Bentuknya sangat unik mirip seperti rumah-rumah di negeri dongeng dengan bentuk prisma. Sekilas bentuknya seperti bagian atap semua dan mirip seperti potongan coklat toblerone.

Termasuk jenis rumah panggung dengan tiang penyangga yang pendek. Tinggi tiangnya tidak lebih dari satu meter. Tiang-tiang tersebut terbuat dari kayu bonati berjumlah sembilan dan saling disambung satu dengan lainnya oleh balok kayu yang dipasak.

Arsitektur Bangunan

Tiang-tiang tersebut menyangga rangka lantai rumah yang terbuat dari papan. Lantai rumah yang terbuat dari papan tersebut disusun saling berdekatan. Papannya berbentuk balok kayu yang agak tebal dan disusun hingga membentuk bagian lantai rumah.

Atap rumah tambi tak hanya berfungsi sebagai atap, tapi juga sekaligus berfungsi sebagai dinding. Bentuknya prisma dengan sudut kecil di bagian atasnya sehingga terlihat tinggi dan mampu manaungi seluruh bagian rumah.

Biasanya atap terbuat dari ijuk atau daun rumbia. Dibuat memanjang ke bawah dan berfungsi sebagai peneduh sekaligus sebagai dinding bagian luar. Pondasi rumah terbuat dari batu alam.

Akses masuk ke dalam rumah adalah sebuah tangga yang terletak di bagian depan. Tambi yang digunakan masyarakat mempunyai anak tangga berjumlah ganjil, sedangkan untuk ketua adat berjumlah genap.

Terdapat pula ukiran-ukiran yang bermotif binatang atau tumbuh-tumbuhan. Motifnya terdiri atas ukiran pebaula, bati, dan pompininie. Ukirannya terdapat di bagian pintu dan dinding.

Bagian dinding dalam terdapat asari atau para-para untuk tempat menyimpan benda pusaka. Kamar atau ruangan di dalamnya tanpa sekat dan terdapat pula dapur di dalam rumah. Semuanya ada di bagian lobana atau ruang tamu.

Tambi juga memiliki bangunan yang dinamakan buho dan pointua. Bangunan tambahan buho terdiri dari dua lantai sedangkan pointua merupakan tempat untuk menumbuk padi.

Lobo

rumah adat sulawesi tengah
tirtoutomo.org

Salah satu rumah adat Sulawesi Tengah, yakni lobo masih bisa ditemukan di Desa Toro, Kabupaten Sigi. Dilihat dari segi kontruksi bangunan ini terbuat dari kayu dengan ukuran 8 x 12 meter serta memiliki tangga pada bagian depan dan belakang.

Sistem pemasangan kayu yang digunakan adalah sistem knockdown. Dimana antara kayu satu dengan yang lain hanya diikat menggunakan tali rotan sehingga bisa dibongkar pasang.

Tiap penghubungnya menggunakan sistem cathokan atau purus serta kait dan beberapa tiang menggunakan sistem pasak. Secara keseluruhan bangunan ini tidak menggunakan paku sebagai penyambungnya.

Struktur Bangunan

Struktur bangunan rumah adat lobo sama seperti bangunan tradisional yang terbuat dari kayu pada umumnya. Terdiri dari tiga komponen anatomi bangunan, yaitu struktur atas, struktur tengah, dan struktur bawah.

Struktur atas yaitu bagian atapnya terbuat dari sirap dan kayu serta bagian puncaknya terbuat dari daun aren dan ijuk. Selanjutnya atap sirap disokong dengan rangka atap yang terbuat dari kayu langka atau pandan hutan. Pandan hutan tersebut diserut tipis lalu dipasang melintang kemudian ditopang oleh kuda-kuda.

Tengah merupakan struktur bagian dinding dan lantai. Dinding rumahnya merupakan model terbuka yang tersusun dari kayu papan menutup bagian tengah ke bawah. Fungsi dari dinding tersebut lebih kepada tempat sandaran duduk.

Selain itu konstruksi bagian tengah juga terdapat tiang bangunan yang terbuat dari kayu. Jumlahnya 13 buah, dimana tiga buah berfungsi sebagai tiang pancang dan sisanya sebagai penyangga atap juga lantai.

Pada bagian dalam bangunan dibiarkan kosong hanya berupa lantai dari papan kayu entorode yang diletakkan begitu saja tanpa paku maupun ikatan. Lantai tersebut dikelilingi tempat duduk seperti bangku panjang pada keempat sisinya. Tingginya sekitar 80cm terbuat dari kayu dengan bagian yang diduduki dari kulit pohon uranga.

Konstruksi bagian bawah berupa kaki-kaki bangunan yang terdiri dari pondasi batu atau umpak dan pondasi kayu. Umpaknya merupakan batu monolit pipih yang tertanam dalam tanah dengan bentuk meruncing ke atas.

Jumlah umpak yang ditanam sebanyak sembilan pasang dengan posisi simetris sebagai penahan kayu diatasnya. Susunan saling menindih mengikuti pola umpah di bawahnya.

Souraja

Orang Kaili mengenal Souraja sebagai rumah besar. Rumah besar yang dimaksud disini berkaitan dengan kelebihan dan kekeramatannya. Masyarakat Kaili menilai bahwa Souraja sebagai lambang rumah adat Sulawesi Tengah.

Saoraja memiliki banyak fungsi, selain sebagai pusat lembaga adat untuk musyawarah, tempat merundingkan dan memutus perkara, juga menjadi tempat untuk melaksanakan berbagai upacara adat. Beberapa diantaranya adalah upacara balia, upacara mora ego, dan upacara movunja.

Ciri utama yang membedakan bangunan souraja dengan rumah lainya adalah materialnya yang menggunakan kayu kelas satu. Tidak semua orang diperbolehkan membangun rumah sejenis. Hanya mereka keluarga kerajaan atau bangsawan Kaili yang diperbolehkan.

Sebenarnya souraja merupakan milik adat kerajaan yang penggunaannya diatur oleh raja (madika) dan tetua adat (to tua nungata). bangunannya dibuat secara permanen dari kayu beratap rumbia.

Ciri khas lainnya dari bangunan souraja ada pada dua buah aula atau ruangan di bagian depan. Masing-masing ruangan memiliki nama, yaitu lonta gandaria dan lonta karavana. Bentuk bangunan souraja yang paling lengkap selain adanya kedua aula tersebut, sebelum aula terdapat bagian rumah yang disebut palantara.

Selama proses pembangunan dilaksanakan dengan cara bekerja sama atau bergotong royong antara pemilik rumah, tukang kayu (pande), para pembantu tukang, kerabat, tetangga dan anggota masyarakat lainnya. Pengerahan tenaga yang cukup banyak diatur oleh pemimpin desa.

Khusus untuk bangunan Souraja aturannya lebih ketat dengan syarat yang memiliki nuansa magis. Semuanya tidak terlepas dari instruksi dan petunjuk dari raja maupun permaisuri. Tak lupa paranormal pun ikut dilibatkan. Hal ini dilakukan karena souraja merupakan cerminan dan representasi dari status sosial dan legitimasi kekuasaan.

Berhubung Souraja hanya boleh diperuntukkan bagi keluarga raja dan bangsawan, keberadaannya sangatlah jarang ditemukan. Bangunan souraja hanya dapat ditemukan di Kota Palu yang jumlahnya hanya ada dua buah dan masih bertahan hingga kini.

Keywords: Rumah Adat Sulawesi Tengah

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.