Rumah Adat Sulawesi Barat, Rumah Suku Mandar Di Mamuju

rumah adat sulawesi barat
BudayaLokal.id

Rumah adat Sulawesi Barat disebut dengan rumah adat Mamuju. Sebenarnya di Sulawesi Barat selain rumah adat Mamuju terdapat pula rumah tongkonan seperti halnya di Provinsi Sulawesi Selatan. Meski begitu rumah adat Mamuju adalah rumah tradisional khas Sulawesi Barat.


Rumah Adat Sulawesi Barat


Provinsi Sulawesi Barat atau yang biasa disingkat Sulbar beribu kota di Kabupaten Mamuju. Luas wilayahnya 16.787,18 km² dengan jumlah penduduk total sebanyak 1.355.544 jiwa.

Etnis atau suku bangsa yang mendiami wilayah Sulbar paling banyak adalah Suku Mandar. Diikuti dengan Suku Toraja, Bugis, Mamasa, Jawa, Pattae, Makasar, dan beberapa suku lainnya.

Rumah Adat Suku Mandar

Sebagai Suku Bangsa yang jumlahnya paling banyak atau dominan di Sulbar, Mandar memiliki budaya dan adat istiadat yang dilestarikan hingga kini. Begitu juga dengan rumah adat mereka.

Secara umum, setiap suku bangsa memiliki beberapa bangunan tradisional, seperti tempat tinggal, tempat musyawarah, tempat ibadah, dan tempat penyimpanan. Akibat pengaruh modernisasi beberapa bangunan mengalami perubahan bentuk dan tipe.

Begitu juga dengan bahan bangunan yang sudah mulai menipis atau bahkan tidak dijumpai lagi di alam sekitar. Itu juga yang terjadi di daerah Mandar, bangunan tradisional yang masih bertahan hanya rumah sebagai tempat tinggal.

Bangunan-bangunan tradisional lainnya, seperti tempat ibadah, tempat musyawarah, dan lumbuh sudah banyak perubahan dari bentuk aslinya. Rata-rata bangunan tersebut menjadi bangunan permanen dan material modern sehingga ciri khas arsitektur Mandar tidak nampak lagi.

Kini tempat ibadah juga sudah berfungsi sebagai tempat musyawarah. Hingga tak ditemukan lagi balai untuk tempat bermusyawarah warga. Sedangkan hasil panen kebanyakan di simpan di loteng atau kolong rumah dan bukan di lumbung-lumbung desa.

Boyang

rumah adat sulawesi barat
aminama.com

Rumah tempat tinggal khas Suku Mandar disebut boyang. Ada dua jenis boyang yang terkenal di Mandar, yakni boyang adaq dan boyang beasa. Boyang adaq ditempati oleh keluarga keturunan bangsawan, sedangkan boyang beasa ditempati oleh orang biasa.

Sebenarnya tidak ada perbedaan berarti dari kedua boyang tersebut. Letak perbedaan yang mencolok tentu terletak pada siapa yang menghuninya. Biasanya pada boyang adaq akan diberi ornamen yang melambangkan identitas tertentu berkaitan dengan tingkat statu sosial penghuninya.

Ornamen tersebut, contohnya tumbaq layar (penutup bubungan) yang bersusun antara 3 sampai 7 susun. Semakin banyak tingkatannya, maka semakin tinggi derajat kebangsawanannya. Boyang beasa tidak memiliki penutup bubungan yang bersusun, dengan kata lain cuma ada satu.

Perbedaan lain terlihat pada bagian tangga. Jika pada boyang adaq tangganya terdiri atas dua susun, yakni susunan pertama terdiri dari tiga anak tangga dan susunan kedua sembilan atau sebelas anak tangga. Kedua susunan tangga tersebut disambung oleh pararang. Sedangkan pada boyang beasa tangga tidak bersusun.

Tipologi rumah orang Mandar berbentuk panggung yang terdiri atas tiga susun. Susunan pertama disebut tapang yang letaknya paling atas, meliputi atap dan loteng. Kedua, disebut roang boyang (ruang rumah) yang ruangannya ditempati penghuni rumah. Ketiga, disebut naong boyang (kolong rumah) yang letaknya paling bawah.

Demikian juga dengan bentuk denah segi empatnya yang terdiri atas talllu lotang atau tiga petak. Petak pertama disebut samboyang yang letaknya di bagian depan. Petak kedua disebut tangnga boyang dan petak ketiga disebut bui’ lotang yang letakknya dibagian belakang.

Gambaran tiga susun dan tiga petak menunjukkan makna filosofi orang Mandar, yakni da’dua tassisara, tallu tammallaesang. Artinya dua tak terpisahnkan dan tiga saling membutuhkan.

Struktur Bangunan

Struktur bangunan rumah orang Mandar dapat dipaparkan mulai bagian paling atas, yakni ate’ (atap). atap rumah berbentuk prisma yang memanjang kebelakang menutupi seluruh bagian atas rumah.

Umumnya atap rumah Mandar kini terbuat dari seng, tapi ada pula yang masih beratap rumbia dan sirap. Daun rumbia dan sirap selalu dipakai untuk membuat atap rumah-rumah Mandar terdahulu.

Pada bagian depan atap terdapat tumbaq layar atau penutup bubungan yang memberi identitas tentang status sosial penghuninya. Ukiran bunga melati biasanya akan dipasang pada penutup bubungan ini.

Ujung bawah atap, baik itu bagian kanan dan kiri sering diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. Di bagian atas penutup bubungan baik di depan maupun belakang dipasang ornamen tegak ke atas. Ornamen tersebut disebut dengan teppang.

Tedapat ruang di bawah atap yang diberi lantai meyerupai lantai rumah yang disebut tapang. Tidak semua bagain tapang tertutupi lantai karena untuk akses keluar masuk. Umumnya tapang digunakan untuk gudang.

Zaman dahulu tapang berfungsi sebagai tempat pingitan para gadis yang akan dinikahkan. Hal itu untuk menjaga diri mereka dan mencegah dari kawin lari. Tangga untuk ke tapanng juga dibuat tidak permanen, sehingga saat digunakan untuk mengungsikan gadis bisa dicopot agar tidak kabur.

Petak-petak Rumah

1. Samboyang
Samboyang merupakan petak paling depan. Petak ini berfungsi untuk menerima tamu, tempat tidur tamu, tempat mengadakan acara, dan tempat membaringkan mayat sebelum dibawa ke kubur.

2. Tangnga boyang
Tangnga boyang merupakan petak yang ada di tengah. Berfungsi sebagai ruang keluarga dimana aktivitas keluarga dan hubungan sosial antara anggota keluarga terjadi di ruangan ini.

3. Bui’ boyang
Bui’ boyang merupakan petak paling belakang, di petak ini sering ditempatkan songi untuk anak gadis atau para orang sepuh, seperti kakek dan nenek. Ruang belakang ini tempatnya lebih aman dibandingkan dengan ruangan tengah dan ruang depan. Sehingga para gadis terlindungi dari berbagai hal yang akan merusak citra keluarga.

Ukuran masing-masing petak berbeda-beda. Biasanya petak bagian tengah lebih lebar dibandingkan petak-petak lainnya. Sementara petak paling depan lebih lebar dari petak paling belakang. Ukuran petak depan biasanya 3 – 4 meter, tengah 4 – 5 meter, dan belakang 2,5 – 3 meter.

Hal tersebut tergantung pada peruntukkannya dan disesuaikan pula dengan ukuran panjang pasak. Antara petak depan dengan petak tengahdibatasi oleh passollor dan tiang. Passollor tersebut merupakan tanda sekaligus batas area yang harus dipatuhi tamu. Apabila ia melewati batas tanpa meminta izin, maka akan dianggap tidak sopan.

Khusus pada boyang adaq, di dalam roang boyang terdapat ruangan atau petak yang lantainya lebih rendah sekitar 50 cm dari paquluag (lantai induk). ruang tersebut disebut dengan tambing atau pellenteang.

Rumah Adat Mamuju

Rumah adat mamuju merupakan bangunan yang memiliki kesatuan nilai dan terpisahkan dari bangunan lain. Bangunan-bangunannya terdiri dari satu bangunan rumah induk atau salassa, satu bangunan barada raja, satu bangunan rumah pegawai.

Ada juga satu bangunan pandai besi dan emas, satu lumbung pangan, satu bangunan kandang kuda dan rusa, serta dua tempat duduk untuk penjaga. Wujud rumahnya mungkinterlihat sederhana, tapi nilai arsitektur didalamnya sangat tinggi.

Lokasi rumah adat Mamuju berada di tengah kota dan fungsinya sebagai tempat pameran budaya. Masyarakat setempat menyebut rumah ini dengan sebutan rumah bandar.

Keywords: Rumah Adat Sulawesi Barat

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.