Rumah Adat Riau | Rumah Lontik yang Unik dan Cantik

rumah adat riau
line.today.me

Rumah Adat Riau – Ada beberapa rumah adat yang terdapat di Provinsi Riau, diantaranya Rumah Melayu Atap Lontik, Rumah Adat Salaso Jatuh, Rumah Melayu Atap Limas, Rumah Melayu Lipat Kajang. Bangunan tradisional disana kebanyakan berarsitektur Melayu dengan bentuk balai dan atap yang berbeda-beda.


Rumah Adat Riau


Provinsi Riau beribu kota di Kota Pekan Baru. Provinsi ini terletak di bagian tengah Pulau Sumatra. Riau saat ini termasuk salah satu provinsi terkaya di Indonesia dengan sumber daya yang didominasi oleh sumber daya alam.

Minyak bumi, gas alam, karet, kelapa sawit, dan perkebunan serat merupakan hasil kekayaan alam provinsi dengan luas 87.023,66 km² ini. Disana setidaknya terdapat beberapa suku bangsa yang mendiami provinsi tersebut, diantaranya suku Melayu, Jawa, Batak, Minangkabau, Banjar, Bugis, Tionghoa, Sunda, dan Nias.

Masyarakat Melayu Riau

Etnis atau suku bangsa Melayu di Lima Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau menggunakan rumah lontik sebagai tempat tinggal mereka. Lima koto ini merupakan kesatuan daerah hukum adat yang berbeda dengan etnis Melayu di daerah pesisir lainnya.

Adat yang sama dengan Lima kota ada di Rantau Kuantan, tepatnya di Kabupaten Indragiri Hulu dan juga sebagian di daerah Rokan. Koto merupakan sebuah perkampungan penduduk yang terdiri dari sekelompok rumah penduduk, masjid, dan balai adat atau Balai Godang.

Bila satu unsur dari sebuah koto tidak ada, maka tidak bisa disebut dengan koto. Dahulu sebuah koto dibangun di kaki bukit, tetapi seiring berjalannya waktu akibat pertumbuhan pantai sungai Kampar, daerahnya pindah ke dataran di pinggir sungai.

Berawal dari sanalah perkampungan menjadi umum dibentuk di pinggir aliran sungai. Rumah-rumah didirikan di sepanjang tepi sungai maupun jalan raya yang sejajar dengan aliran sungai. Bisa dikatakan bahwa perkampungannya memiliki pola linier mengikuti fenomena yang ada.

Mula-mulanya rumah didirikan untuk seluruh keluarga yang terdiri atas beberapa keluarga batih kemudian tinggal bersama. Seiring berkembangnya zaman masing-masing kepala keluarga mendirikan rumahnya sendiri yang umumnya lebih kecil.

Tata letak rumah- rumah yang dibangun kepala keluarga serta bentuknya masih mengikuti cara atau adat tradisional. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya juga ditentukan oleh adat. Biasanya rumah keluarga yang lebih tua berada di depan keluarga yang lebih muda.

Rumah Lontik

Salah satu rumah adat yang ada di provinsi Riau adalah Rumah Lancang atau Pencalang. Pencalang merupakan salah satu rumah tradisional masyarakat Kabupaten Kampar yang ada di Provinsi Riau. Biasanya Rumah Lancang disebut juga dengan Rumah Lontik.

Disebut lontik karena bentuk perabung atau bubungan atapnya melentik ke atas. Sedangkan nama pencalang atau lancang karena bentuk hiasan kaki dindin depannya mirip perahu. Bentuk dinding rumah juga miring dan miringnya seperti dinding perahu layar. Apabila dilihat dari jauh, bentuk rumah adat Riau seperti rumah perahu (magon) yang biasa dibuat penduduk.

Bentuk Rumah Lontik

Bentuk atap rumah lontik yang melengkung ke atas di kedua ujungnya mengandung makna bahwa awal dan akhir hidup manusia di tangan Tuhan Sang Maha Pencipta. Elain atap, tiap-tiap bagian atau bangunan rumah memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat.

Bentuk rumahnya persegi panjang dengan model konstruksi rumah lontik atau lancang menggunakan model rumah panggung. Tujuannya tidak lain agar menghindari bahaya serangan binatang buas dan juga terjangan banjir. Bagian kolong rumah biasanya digunakan sebagai kandang ternak, tempat menyimpan perahu, tempat bertukang, tempat bermain, maupun gudang kayu.

Rangka

Tiang-tiang rumah memiliki berbagai macam bentuk, antara lain segiempat yang melambangkan empat penjuru mata angin. Diharapkan rumah tersebut dapat mendatangkan rezeki dari keempat penjuru tersebut.

Tiang segienam melambangkan rukun Iman yang dalam ajaran Islam berjumlah enam dan harus ditaati pemilik rumah. Kemudian tiang segitujuh yang melambangkan tingkatan surga dan neraka yang berjumlah tujuh.

Lalu tiang segidelapan yang memiliki makna sama seperti tiang segiempat. Sedangkan rumah dengan tiang bersegisembilan melambangkan pemilik rumah yang tergolong orang kaya. Tiang yang letaknya pada deretan kedua pintu masuk disebut Tiang Tuo dan merupakan tiang utama yang tidak boleh disambung.

Lantai rumah terbuat dari papan yang disusun rapat dan pemasangannya pun sejajar dengan rasuk. Rasuk adalah balok yang fungsinya sebagai penyangga kerangka lantai.

Tangganya memiliki jumlah anak tangga yang ganjil. Biasanya terdapat lima anak tangga dalam setiap rumah. Hal ini melambangkan ekspresi keyakinan masyarakat. Sedangkan arsitekturnya bagian dinding luar rumah seluruhnya miring keluar dan bagian dalam tegak lurus.

Balok tumpuan dinding luar bagian depan dibuat melengkung ke atas dan disambung dengan ukiran pada tiap sudut dinding yang terlihat seperti bentuk perahu. Balok penutup ata dinding juga melengkung meskipun tidak terlalu melengkung seperti halnya balok tumpuan.

Lengkungannya mengikuti lengkungan sisi bawah bidang atap. Kedua ujung perabung diberi hiasan yang biasa disebut dengan sulo bayung. Sementara itu, ornamen pada keempat sudut cucuran atap dinamakan sayok lalangan. Bentuk hiasan yang terdapat pada rumah adat Riau beragam. Ada yang menyerupai bulan sabit, tanduk kerbau, taji, dan sebagainya.

Susunan Ruangan

Jumlah ruangan pada rumah lontik ada tiga sesuai dengan ungkapan ‘alam nan tigo’. Ungkapan tersebut mengambarkan tata pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat. Pertama, pergaulan antarsesama warga kampung yang disebut alam berkawan. Tegur sapa dilambangkan dengan ruangan depan.

Kedua, alam besanak berarti pergaulan antar kerabat juga keluarga. Hal ini dilambangkan dengan ruang tengah. Ketiga, alam semalu berarti kehidupan pribadi atau rumah tangga. Dilambangkan dengan ruang belakang.

Ruang pertama merupakan ruang bawah karena lantainya yang lebih rendah daripada lantai rumah induk dan dipisahkan oleh dinding dan bendul. Ruangan kedua merupakan ruang tengah atau rumah induk. Meskipun tidak ada pembatas, tapi menurut fungsinya ruangan ini dibagi menjadi dua.

Sebelah kanan disebut ujung tengah digunakan sebagai pelaminan saat uppacara perkawinan. Disediakan juga sebuah tempat tidur berupa gerai atau katil. Sedangkan sebelah kiri disebut poserek yang digunkan oleh anggota keluarga perempuan.

Terakhir adalah ruang belakang atau pendapuan yang digunakan untuk memasak, tempat makan keluarga, dan tempat wanita menerima tamu. Terkadang para gadis juga menggunakan ruang ini sebagai tempat tidur.

Tungku pada padapuan terbuat dari batu dan dindingnya dilapisi dengan seng agar mencegah api bisa membakar dinding. Ruangan belakan ada yang bersatu dengan rumah indduk ada juga yang dipisahkan dengan ruang lain yang disebut dengan telo aatau sullo pandan. Solu pandang biasanya diberi dinding dan digunakan untuk meletakkan peralatan dapur dan keperluan lain.

Ringkasan

Nama lainnya adalah Rumah Lontik dengan hiasan dan bangunan mirip perahu. Model rumahnya berbentuk panggung dengan jumlah tangga ganjil. Ornamen sayok lalangan ada di setiap sudut atap. Memiliki tiga buah ruang.

Tinggi ambang pintu sekitar 1,75 meter dengan lebar antara 70 sampai 100 cm. jendela pada rumah lonyik memiliki dua macam bentuk. Pertama berbentuk seperti pintu dengan dua buah daun jendela dan kedua berupa jendela panjang yang tingginya sekitar 50 cm, tapi lebarnya 1 – 2 meter.

Bagian kolong rumah biasa digunakan untuk kandang ternak, menyimpan perahu, tempat anak-anak bermain, gudang kayu, hingga tempat bertukang. Orang-orang Melayu memang sering mengerjakan hal-hal pertukangan di kolong rumah, seperti halnya pada kartun negeri tetangga Upin Ipin. Ada adegan dimana Upin dan Ipin membuat sepeda dikolong rumah Tok Dalang.

Keywords: Rumah Adat Riau

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.