Rumah Adat Papua Barat, Rumah Kaki Seribu dengan Banyak Tiang

rumah adat papua barat
margopost.com

Rumah adat Papua Barat dinamakan rumah adat kaki seribu. Namanya yang unik diambil dari bentuk bangunannya yang juga unik. Jumlah tiang penyangga rumah tradisional ini banyak sekali sehingga dinamakan kaki seribu.


Rumah Adat Papua Barat


Provinsi Papua Barat beribu kota di Kota Manokwari yang sebelumnya memiliki nama Irian Jaya Barat. Letaknya di ujung barat Pulau Papua. Keistimewaan dari provinsi Papua dan Papua Barat adalah status otonomi khusus.

Wilayah Papua Barat memiliki luas sebesar 102.955,15 kmĀ² dengan total jumlah penduduk sekitar 937.458 jiwa. Penduduknya masih didominasi oleh suku asli Papua meskipun tidak sebanyak di wilayah Provinsi Papua.

Suku Arfak

rumah adat papua barat
indonesiasatu.co

Arfak merupakan sebuah suku bangsa atau etnis yang mendiami wilayah di sekitar Pegunungan Arfak, Provinsi Papua Barat. Kawasan tempat tinggal Suku Arfak masuk ke dalam wilayah Kabupaten Pegaf yang letaknya di ketinggian 2.950 mdpl.

Etnis tersebut disebut Suku Arfak karena mendiami wilayah Pegunungan Arfak. Wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Manokwari di utara, Kabupaten Manokwari Selatan di Timur, Kabupaten Teluk Bintuni di Selatan, dan Kabupaten Sorong Selatan di Barat.

Kawasan tempat tinggal suku Arfak sangat berpotensi sebagai tempat wisata. Selain keberadaan Danau Anggi yang menakjubkan, keberadaan desa adat suku Arfak juga bisa menjadi wisata budaya.

Wisatawan bisa merasakan potensi kearifan lokal dari masyarakat adat Arfak. Mereka bisa mempelajari bagaimana cara orang Arfak bertani, membuat rumah, hingga bertahan hidup di tengah hutan.

Secara umum, masyarakat adat yang mendiami kawasan Pegunungan Arfak disebut dengan Suku Arfak. Meski begitu, Suku Arfak sebenarnya terdiri atas empat subetnis yang memiliki kemiripan budaya atau adatnya.

Keempat suku tersebut, ada Suku Hattam, Suku Meyakh, Suku Sough, dan Suku Moile. Walaupun memiliki kebudayaan yang hampir mirip, akan tetapi mereka memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Sehingga antarsuku tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa adat mereka.

Masing-masing sub suku Arfak dipimpin oleh seorang kepala suku. Setiap suku juga memiliki marga masing-masing. Suku Molei misalnya, yang memiliki beberapa marga, yakni marga Kowi, Saiba, Mandacan, Sayori, Ulo, Ayok, Indow, Wonggor, dan masih ada lagi. Tiap marga juga menggunakan kode bahasa yang berbeda-beda.

Rumah Adat Kaki Seribu

Rumah kaki seribu juga dikenal dengan sebutan mod aki aksa (lgkojei). Arsitekturnya kental dengan corak Manokwari. Bangunan tradisional rumah kaki seribu merupakan rumah adat khas Suku Arfak Papua yang mendiami wilayah Manokwari.

Bangunan unik khas suku Arfak tersebut juga dikenal dengan nama Mod Aki Aksa atau Igkojei. Orang suku Arfak mengenalkan rumah adat kebanggaan mereka kepada masyarakat luas dengan sebutan rumah kaki seribu. Sekilas rumah ini memang terlihat sederhana, tapi kenyamanan dan ciri khas itu menggambarkan Suku Arfak.

Disebut kaki seribu karena rumah adat Papua Barat yang satu ini memiliki banyak sekali tiang penyangga. Modelnya berbentuk rumah panggung dengan tiang-tiang penyangga yang terbilang pendek. Tidak seperti kebanyakan rumah panggung yang mempunyai tiang penyangga besar, keunikan rumah ini ada pada tiangnya.

Material Bangunan

Tiangnya terbuat dari kayu bulat yang kecil-kecil sehingga diperlukan banyak agar bisa menopang keseluruhan bangunan rumah. Tiang-tiang tersebut ada yang dibuat pendek adapula yang tinggi. Gunanya untuk melindungi orang di dalam rumah dari musuh atau orang yang berniat jahat dengan ilmu hitam.

Begitu banyak tiang-tiang yang menyangga rumah dari kayu berukuran kecil dan tersusun rapat. Sehingga bagian kolong rumah tidak mungkin dijadikan atau dimanfaatkan sebagai ruangan atau tempat penyimpanan.

Perbedaan lain yang ada pada rumah panggung kaki seribu dengan rumah panggung pada umumnya tidak hanya pada penyangganya saja. Pintu rumah ini hanya ada dua, yakni dibagian depan dan belakang rumah. Tak hanya itu, rumah kaki seribu juga tidak memiliki jendela.

Dindingnya terbuat dari kulit pohon butska serta atapnya terbuat dari tumpukan daun pandan. Terkadang atapnya juga terbuat dari jerami atau daun sagu karena memang di daerah Papua Barat banyak terdapat pohon sagu. Sagu juga merupakan makanan pokok khas orang Indonesia bagian timur salah satunya Papua.

Lantai rumah kaki seribu terbuat dari batang bambu yang ditata rapi dibagian bawah rumah. Saat ini rumah kaki seribu sudah sangat jarang ditemukan akibat modernisasi apalagi di kota besar. Biasanya masyarakat asli Arfaklah yang berada di pedalaman terutama di bagian tengah sekitar Pegunungan Arfak yang masih menggunakan rumah unik ini.

Bentuk dan Struktur

Beberapa rumah kaki seribu menggunakan atap ilalang dengan lantai anyaman rotan. Dindingnya cukup kuat karena tersusun dari kayu yang dipasang secara horisontal dan vertikal dengan saling mengikat.

Ketinggian rumah rata-rata sekitar 4 – 5 meter dengan luas kurang lebih 8 x 6 meter. Cukup besar dan nyaman untuk ditinggali keluarga kecil. Penyangga yang terdiri dari tiang yang sangat banyak itu kayunya berdiameter 10 cm dan disusun dengan jarak kurang lebih 30 cm antartiang.

Kerapatan dan banyaknya tiang itulah yang menjadi keunikan dan terlihat berkaki banyak. Keunikan lain yang tak kalah menarik adalah desain rumah tanpa jendela dengan dua buah pintu saja.

Seperti halnya tiang penyangga keunikan desain pintu dan jendela dibuat bukan tanpa alasan. Ketinggian rumah, banyaknya tiang, dan rumah yang tertutup dimaksudkan untuk menghindarkan penghuni rumah dari hewan buas dan udara dingin.

Untuk membangun sabuah rumah kaki seribu diperlukan waktu yang cukup lama. Hampir 2 sampai 3 tahun waktu yang dibutuhkan untuk membuat pondasi awal hingga finishing.

Rumah Kaki Seribu dan Suku Arfak

Keberadaan rumah kaki seribu di Suku Arfak berdampak pada tingkat keakraban masyarakat Papua, terutama orang suku Arfak. Berkat rumah kaki seribu mereka hidup berdampingan secara gotong royong dengan prinsip kembali ke alam (back to nature).

Bukannya masyarakat Arfak menutup diri dari perkembangan peradaban atau modernisasi. Melainkan mereka mampu menyaring budaya luar yang masuk ke dalam lingkungan suku mereka dengan tetap mempertahankan adat istiadat.

Kebersamaan dan tali persaudaraan mereka juga tercermin dari masih dipertahankannya pelaksanaan upacara-upacara adat. Begitu juga budaya mereka yang dijunjung tinggi.

Kebersamaan masyarakat Suku Arfak tidak hanya terlihat pada saat mengikuti upacara adat saja, tapi juga saat mencari makan. Mereka kompak dalam mencari makan bersama. Contohnya saja berburu hewan di hutan sekitar pegunungan dengan alat-alat sederhana, seperti panah, tombak dan parang.

Mengandalkan kekayaan lam yang masih sangat melimpah, kaum pria cenderung mencari makanan dengan berburu hewan. Mulai dari rusa, babi, hingga ikan di sungai menggunakan alat-alat tadi.

Para wanita suku Arfak akan menunggu para pria di kampung dengan bercocok tanam dan memasak.kegiatan tersebut dilakukan di sela-sela kegiatan mereka menunggu hasil tangkapan atau buruan yang diperoleh para pria. Nantinya buruan tersebut akan dimasak dan dimakan bersama-sama.

Meskipun terlihat ketinggalan jaman, tapi rumah adat kaki seribu perlu dilestarikan agar dapat dipelajari nilai-nilai di dalamnya oleh generasi mendatang.

Keywords: Rumah Adat Papua Barat

Avatar
About Sofiyah Alghiptiah 34 Articles
not a wormbook just love to read and write

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.