2 Rumah Adat Kepulauan Riau Kental Bergaya Melayu

rumah adat kepulauan riau
polarumah.com

Rumah Adat Kepulauan Riau –Terdapat beberapa rumah adat di Provinsi Kepulauan Riau, dua diantaranya adalah Balai Jatoh Kembar dan rumah adat Belah Bubung. Rumah Belah Bubung dikenal juga dengan sebutan Rumah Rabung atau Rumah Bubung Melayu. Arsitektur yang digunakan memang kental dengan adat Melayu, seperti kebanyakan rumah tradisional di Pulau Sumatra.


Rumah Adat Kepulauan Riau


Kepri memang sangat kaya akan keragaman seni dan budayanya, misalnya saja keragaman bentuk rumah adat yang terdapat di kabupaten dan kota wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Sebut saja selaso jatuh kembar dan rumah belah bubung.

Keragaman tersebut terjadi karena letak geografis Provinsi ini yang terdiri dari pulau-pulau kecil. Mungkin dahulu orang-orang terkendalah dengan hal tersebut sehingga antara satu daerah dan daerah lainnya memiliki kemiripan budaya, termasuk juga rumah mereka.

Kepulauan Riau

Provinsi Kepulauan Riau beribu kota di Kota Tanjung Pinang. Sebelum tahun 2004 provinsi ini termasuk dalam wilayah Provinsi Riau. Kepulauan Riau biasa disingkat Kepri merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang wilayahnya berbatasan dengan beberapa negara tetangga.

Sebelah utara berbatasan dengan negara Vietnam dan Kamboja. Timur berbatasan dengan Malaysia dan provinsi Kalimantan Barat. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi di sebelah Selatan, dan negara Singapura, Malaysia, serta Provinsi Riau di sebelah barat.

Luas Provinsi Kepulauan Riau adalah 8.201,72 km² dengan 96% wilayahnya merupakan lautan dan 4% daratan. Etnis yang ada di Provinsi ini, diantaranya Melayu, Jawa, Batak, Minangkabau, Tionghoa, Sunda, Bugis, Banjar, dan lainnya.

Presentase penduduk di Kepulauan Riau berdasarkan agamanya adalah Islam sebanyak 77,34%, Kristen 12,28%, Buddha 7,66%, Katolik 2,46%, Konghucu 0,19%, serta Hindu0,07%. Bahasa daerah yang paling banyak digunakan di Provinsi Kepulauan Riau adalah bahasa Melayu.

Seni dan budaya di Kepri sangatlah beragam. Musik yang berkembang di masyarakat Kepulauan Riau adalah musik Melayu mencakup langgam dan senandung. Selain itu berbagai tarian pun banyak yang dipertontonkan disana, seperti tari Zapin, tari Makyong, tari Melemang, dan sebagainya.

Adapula seni teater Melayu yang berkembang di provinsi Kepulauan Riau. Sebut saja Teater Makyong di Kabupaten Bintan, teater Mendu di Kabupaten Ranai, Teater Lang-lang Buana di Kabupaten Natuna, serta Wayang Bangsawan di Daik Lingga, Dabo SIngkep, Pulau Penyengat.

Teater dari daerah lain yang berada di Provinsi Kepulauan Riau, antara lain Randai, Ketoprak, Wayang orang, Dul Muluk, dan Manora. Semua dikemangkan oleh masyarakat dari suku lain yang menempati Kepulauan Riau.

Kepri merupakan tujuan wisata mancanegara lain di Indonesia selain Pulau Bali. Jumlah wisatawan asing yang berkunjung tidak kalah banyak dengan wisatawan di Bali. Objek wisata di Kepulauan Riau, antara lain wisata pantai, tempat atau makam bersejarah, dan cagar budaya. Salah satu cagar budaya yang menjadi daya tarik adalah rumah adat Kepulauan Riau yang masih tradisional.

Rumah Adat Salaso Jatuh Kembar

Balai Selaso Jatuh Kembar yang berasal dari Provinsi Kepulauan Riau merupakan rumah tradisional berbentuk rumah panggung. Bentuk bangunannya persegi panjang dengan tiang-tiang penyangga di bawahnya.

Beberapa bentuk rumah ini hampir serupa baik dari tangganya, pintu, dinding, susunan ruangan, dengan ukiran-ukiran khas Melayu. Ada ukiran selembayung, lembah bergayut, pucuk rebung, dan lain sebagainya.

Umumnya rumah adat ini dibangun menghadap ke arah sungai. Hal ini dikarenakan masyarakat setempat lebih sering menggunakan alat transportasi sungai. Apalagi daerah Kepulauan Riau memang sebagian besar di dominasi oleh perairan.

Terlihat jelas nuansa Melayu dari rumah adat selaso jatuh kembar. Baik itu tangga, pintu, dinding, maupun susunan ruangannya seperti kebanyakan rumah panggung melayu lainnya. Terdapat pula ukiran-ukiran melayu yang menghiasi rumah tradisional ini.

Hampir semua rumah balai jatoh kembar yang berada di Kepulauan Riau menghadap ke arah sungai. Disebut selaso jatuh karena selasar keliling lantainya lebih rendah daripada ruang tengah. Semua bangunan tradisional di Kepulauan Riau, baik rumah adat maupun balai adat diberi hiasan terutama ukiran.

Detail Rumah

Diatas bagian puncak atap terdapat hiasan kayu yang mencuat ke atas bersilangan dan diberi ukiran yang disebut Tunjuk Langit. Makna dari ukiran tersebut adalah pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Selasar dalam bahasa Melayu disebut juga dengan selaso. Sedangkan selaso jatuh kembar bermakna rumah yang memiliki dua selasar yang lantainya lebih rendah dari ruang tengah. Biasanya rumah selaso jatuh kembar dihiasi corak atau hiasan motif Melayu yang bersumber dari alam. Ada corak flora, seperti bunga dan lainnya.

Begitupun corak hewan yang dipilih berkaitan dengan petuah tertentu yang berkaitan dnegan kepercayaan masyarakat. Corak semut disebut semut beriring karena sifat semut yang rukun dan suka menolong antar sesama. Corak lebah dikarenakan sifat lebah yang selalu memakan yang bersih dan mengeluarkan madu yang bermanfaat bagi banyak orang.

Tak hanya corak hewan, ada juga corak benda-benda angkasa, seperti bulan, bintang, matahari, serta awan yang dianggap mengandung filosofi tertentu. Adapula corak bentuk, seperti belah ketupat, lingkaran, hingga kubus. Sedangkan corak kaligrafi diambil dari Al Qur’an. Pada intinya masing-masing corak mempunyai nilai falsafah yang terkandung didalamnya.

Meskipun begitu sebenarnya corak hewan sangat jarang ditemukan karena dikhawatirkan menjurus kepada suatu hal yang bersifat keberhalaan. Orang Melaayu umumnya beragama Islam, sehingga corak Hindu-Buddha diganti dengan yang lebih umum.

Ringkasan Mengenai Rumah Salaso Jatuh Kembar

Bagian puncak atap terdapat hiasan kayu bersilang. Bentuk bangunan persegi panjang dengan model rumah panggung yang berdiri diatas tiang penyangga. Selaso jatuh kembar berarti rumah yang memiliki dua selasar lebih rendah daripada ruang tengah (jatuh). Memiliki ukiran Melayu salah satunya salembayung.

Posisi rumah menghadap ke sungai. Bagian depan rumah terdapat selasar bagian tengah bersekat papan dan dapur terdapat di belakang rumah. Dihiasi pula dengan corak Riau, seperti kaligrafi, flora, obyek geometris, fauna, dan benda angkasa.

Rumah Belah Bubung

Selain selaso jatuh kembar di Kepri masih terdapat rumah tradisional lain, yaitu rumah belah bubung. Belah bubung adalah rumah adat Kepulauan Riau yang juga dikenal dengan nama rabung atau rumah bubung Melayu.

Konon, nama rumah belah bubung disematkan oleh orang-orang asing yang datang ke Indonesia, seprti orang-orang Tiongkok dan Belanda. Makna dari belah bubung adalah bagian atapnya terbuat dari bubung (bambu) yang terbelah dua.

Model rumah belah bubung adalah rumah panggung. Tinggi rumah ini sekitar 2 meter dari permukaan tanah dengan beberapa tiang penyangga. Seluruh bagian rumah bahannya di dapat dari alam.

Keunikan dari rumah belah bubung adalah atapnya yang berbentuk seperti pelana kuda. Bagian rumah induk terbagi menjadi 4 bagian, yaitu selasar, ruang induk, ruang penghubung dapur, serta dapur. Bahan dasar yang digunakan untuk membangun rumah ini adalah bambu (bubung).

Proses pembangunan rumah adat Kepulauan Riau ini tidak sembarangan. Harus ada beberapa tahapan adat yang perlu dilalui agar pemilik rumah terhindar dari kesialan. Ukuran rumah didasarkan pada kemampuan ekonomi pemilik rumah. Semakin besar rumah maka pemilik adalah orang berada. Sebaliknya, semakin kecil rumah berarti pemiliknya orang menengah ke bawah.

Keywords: Rumah Adat Kepulauan Riau

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.