Rumah Adat Kalimantan Timur | Rumah Panjang Tradisional yang Besar

rumah adat kalimantan timur
bobo.grid.id

Rumah adat Kalimantan Timur termasuk jenis rumah panjang. Bentuknya adalah rumah panggung dengan daya tampung yang besar. Besarnya daya tampung rumah panjang menunjukkan bahwa masyarakat Dayak di daerah Kalimantan Timur memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi.


Rumah Adat Kalimantan Timur


Provinsi Kalimantan timur beribu kota di Kota Samarinda memiliki luas sebesar 127.346,92 kmĀ². Jumlah penduduk yang mendiami wilayah Kalimantar Timur sekitar 3.721.389 jiwa.

Etnis yang mendominasi adalah Suku Dayak diikuti dengan suku Banjar, Kutai, Paser, Jawa, Bugis, Toraja, Sunda, Madura, Batak, dan Buton. Setidaknya ada 12 subetnis Dayak yang mendiami wilayah ini.

Rumah Lamin

rumah adat kalimantan timur
bobo.grid.id

Lamin yang memiliki arti rumah panjang menurut orang Kutai merupakan jenis arsitektur vernakuler. Banyak dijumpai di WIlayah Kalimantan Timur. Berhubung kondisi geografis wilayahnya terdapat sungai-sungai besar, masyarakat Dayak Kutai mendirikan lamin disepanjang sistem sungai tersebut.

Masyarakat Dayak di Kalimantan Timur bisa dikatakan memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan bentuk rumah adat mereka , yaitu rumah lamin yang memiliki daya tampung besar.

Mereka hidup berkelompok didalam satu rumah lamin. Biasanya sebanyak 12 sampai 30 keluarga dapat hidup bersama-sama dalam satu rumah. Cukup besar bukan melihat orang sebanyak itu bisa ditampung dalam satu rumah tradisional.

Sebenarnya rumah lamin termasuk rumah panjang yang memiliki sebutan lamin dari Suku Kutai. Suku Kutai masih satu rumpun dalam Dayak Ot Danum. Pada badan rumah lamin terdapat ukiran-ukiran yang mempunyai makna bagi orang Kutai.

Salah satu fungsi dari ukiran atau gambar tersebut adalah untuk menjaga penghuninya dari bahaya ilmu hitam. Motif ukirannya bermotif makhluk hidup, seperti wajah manusia, kisah perburuan, tumbuh-tumbuhan, dan masih banyak lagi.

Warna catnya didominasi oleh warna-warna Dayak, seperti kuning, hitam, merah, biru, dan putih. Bisa dibilang warna-warna tersebut adalah warna utama dalam arsitektur rumah adat lamin. Dicat dengan bentuk salur pakis dan mata yang mengandung makna dapat mencegah niat buruk orang dan lambang persaudaraan Suku Dayak.

Warna-warna tersebut melambangkan sifat-sifat tertentu. Kuning melambangkan kewibawaan, merah melambangkan keberanian, dan putih melambangkan kebersihan jiwa.

Material Utama

Ciri khas dari rumah lamin terletak pada konstruksi bahan pembuatannya, yaitu kayu ulin seperti yang sudah disebutkan diatas. Hampir seluruh bagian utama konstruksi rumah menggunakan kayu ulin.

Material rumah menggunakan kayu ulin dan kayu ulin merupakan kayu terbaik yang hanya dapat diperoleh di hutan Kalimantan. Jenis kayu ulin sangat kuat dan tidak mudah lapuk.

Saat terkena air hujan kayu ulin justru akan bertambah tingkat kekerasan dan kekuatannya. Oleh karena itu, kayu yang juga dijuluki sebagai kayu besi ini digunakan sebagai bahan tiang penyangga, dinding, sekaligus lantai rumah.

Pembagian ruangan pada rumah lamin terbagi menjadi tiga ruangan, diantaranya ruang tamu, ruang tidur, serta dapur. Selain ukiran, patung juga menjadi aksesoris pada rumah lamin. Kolong dari rumah adat yang dapat menampung hingga 100 orang ini juga sangat luas.

Lou

Lou merupakan rumah tradisional khas Suku Dayak Benuaq yang merupakan bagian dari Suku Dayak Lawangan. Dimana mereka masih satu rumpun dalam dayak Ot Danum. Termasuk dalam jenis rumah panjang yang adanya di Kalimantan Timur.

Kebanyakan orang Suku Dayak Benuaq yang mendiami wilayah Kaltim membangun rumah di tepian aliran sungai Muara Lawa. Ohong, Muara Paru, hingga sekitar danau Jempang di Kabupaten Kutai Barat. Mereka membangun Lou di sepanjang tepian sungai yang membelah hutan Kalimantan.

Ciri khas dari lou, yaitu terdiri dari delapan olakng, yakni bagian atau unit rumah. Setiap olakng terdapat beberapa bilik atau kamar beserta dapur. Sering disebut juga sebagai kampung besar atau benua.

Bahan utama untuk membuat rumah ini adalah kayu ulin khas hutan Kalimantan. Secara keseluruhan dulunya rumah adat ini tidak dicat. Warnanya sesuai dengan bahan bakunya.

Saat ini lou sudah jarang ditemukan di Kalimantan Timur karena orang Dayak Benuaq lebih memilih rumah modern. Sehingga dapat dikatakan bahwa rumah tradisional ini sudah mulai punah.

Arsitektur Lou

Jenis atap rumahnya adalah bentuk pelana dengan bahan sirap. Lalu pada bagian terasnya diberi pagar. Panjang pagar sama dengan panjang rumah lou. Terdapat lebih dari satu anak tangga untuk masuk ke rumah ini. Selain itu lou kental dengan ornamen khas Dayak Benuaq sebagai bagian dari kebudayaan mereka.

Dalam pembangunan rumah panjang, masyarakat Dayak khususnya Benuaq menganut pada kepercayaan filosofi Lati Tana sebagai kawasan tempat tinggal. Kawasan tersebut meliputi:

Rumah panjang (lou) sebagai pusat kegiatan masyarakat dan ditempati sekelompok masyarakat.

Belay Jaykung yang merupakan rumah tunggal disekitar lou sebagai dapur dan tempat menyimpan bahan makanan.

Lubakng, yakni kuburan para leluhur dan seluruh anggota masyarakat.

Umaq, yakni kawasan perladangan

Simpukng, yaitu kawasan untuk keperluan khusus.

Kebotn dukuh yang merupakan kawasan untuk perkebunan.

Sophan, yaitu sebuah tempat yang dikeramatkan.

Amin Bioq

rumah adat kalimantan timur
commons.wikimedia.org

Amin bioq merupakan sebutan untuk rumah panjang dari Suku Dayak Kenyah. Suku Dayak Kenyah termasuk ke dalam rumpun Apou Kayang yang mendiami wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Dalam rumah ini disimpan barang-barang adat milik bersama. Tak hanya itu rumah ini dihuni oleh banyak keluarga. Banyaknya keluarga yang tinggal bisa mencapai 60 kepala keluarga.

Atapnya terbuat dari sirap dengan bentuk pelana. Bagian mahkotanya terdapat ukiran khas Dayak Kenyah. Ukirannya berupa burung enggang, tumbuhan, dan berbagai hewan laut termasuk juga naga laut.

Makna ukiran tersebut adalah orang Dayak Kenyah hidup dengan rukun. Hidup rukun yang dimaksud disini tidak hanya dengan sesama mereka, tapi juga dengan suku lainya. Dapat dikatapan bahwa ukiran tersebut merupakan simbol persatuan dan kesatuan manusia.

Bagian-bagian Amin Bioq

Kamar-kamar atau biliknya memiliki ukuran 3 x 4 meter dengan dinding pembatas yang dihiasi lukisan khas Dayak Kenyah. Lukisannya berupa burung enggang, tumbuhan, dan berbagai hewanlaut sebagai bagian dari kebudayaan mereka. Cat rumahnya didominasi warna putih, kuning, dan merah.

Berhubung bentuknya panggung, ketinggian lantai mencapai empat meter dari permukaan tanah. Tangga untuk masuk ke rumah terbuat dari kayu gelondongan yang berdiameter 3- – 4- cm. Anak tangganya dapat dinaikturunkan.

Pada tangga terdapat ukiran kepala naga yang maknanya untuk mengusir roh-roh jahat dari rumah. Tangga juga ada di dapur, gunanya untuk memudahkan penghuninya membawa bahan makanan dan kayu bakar.

Lantai teras rumah terbuat dari papan kayu. Teras rumah amin bioq dapat menampung banyak orang. Biasanya berbagai upacara adat dilangsungkan di bagian teras rumah.

Sebenarnya masyarakat Dayak Kenyah tidak hanya menjadikan amin bioq sebagai tempat tinggal saja, tapi juga sebagai pusat interaksi sosial. Bisa dikatakan, masyarakat dayak yang tinggal di rumah ini merupakan sebuah komunitas yang berbentuk kampung.

Itulah mengapa setiap amin bioq dipimpin oleh seorang kepala suku. Kepala suku dan keluarganya tinggal di pusat atau bagian tengah bangunan rumah. Sedangkan ruang untuk bawahannya ada di samping kanan dan kiri pusat rumah. Kemudia masyarakat biasa ada di sisi-sisi terjauh dari pusat rumah.

Baca juga jenis rumah panjang lainnya di KalimantanĀ https://kumpulanilmu.com/ilmu-sosial/rumah-adat-kalimantan-tengah/

https://kumpulanilmu.com/ilmu-sosial/rumah-adat-kalimantan-barat/

Keywords: rumah adat Kalimantan Timur

Avatar
About Sofiyah Alghiptiah 34 Articles
not a wormbook just love to read and write

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.