Rumah Adat Gorontalo, Dulohupa yang Kini Jadi Gedung Serbaguna

rumah adat gorontalo
kebudayaan.kemdikbud.go.id

Rumah adat Gorontalo bernama Dulohupa, berbentuk rumah panggung dilengkapi dengan pilar kayu yang dihiasi sedemikian rupa. Badan rumah terbuat dari papan dan atapnya benuansa daerah Gorontalo.


Rumah Adat Gorontalo


Provinsi Gorontalo yang beribu kota di Kota Gorontalo memiliki luas wilayah sebesar 12.435 km². Jumlah total penduduknya sekitar 1.166.142 jiwa dengan berbagai macam agama dan suku bangsa.

Suku Gorontalo merupakan etnis terbanyak atau dominan yang mendiami wilayah Gorontalo. Jumlahnya sekitar 90% dari total penduduk. Disusul dengan suku Suwawa, Bolango, Atinggila, dan Mongondow.

Gorontalo memiliki empat rumah adat yang menjadi ciri khas dari provinsi ini. Ada rumah adat Dulohupa yang ada di Kota Gorontalo, rumah adat Bantayo Poboide yang ada di Limboto, rumah adat Ma’lihe atau Potiwaluya, dan terakhir rumah adat Gobel yang ada di Bone Bolango.

Rumah Dulohupa

Keberadaan Dulohupa terletak di Kelurahan Limba, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Kata dulohupa memiliki arti mufakat. Sering juga disebut sebagai yiladia dulohupa lo ulipu hulondha. Dulohupa memiliki arsitektur rumah panggung bergaya terbuka dengan struktur atap bernuansa daerah Gorontalo.

Arsitektur Dulohupa

Sama halnya dengan rumah lainnya, dulohupa juga terbagi ke dalam beberapa bagian rumah, diantaranya:

1. Bagian atap berbentuk seperti pelana yang umumnya terbuat dari jerami berkualitas.
2. Pada bagian dalam rumah tidak terdapat banyak sekat, sehingga ruangan di dalamnya terbilang luang.
3. Di setiap rumah dulohupa yang diperuntukkan bagi raja dan kerabat istana umumnya terdapat anjungan.
4. Ciri khas dari dulohupa adalah ornamen dan tangganya yang disebut tolihitu. Setiap tangga memiliki lima sampai 7 buah anak tangga.

Susunan bangunan rumah dulohupa yang berbentuk rumah panggung menggambarkan badan manusia. Kepala digambarka dengan bagian atap. Badan digambarkan dengan badan rumah. Kaki digambarkan dengan pilar penyangga rumah.

Bentuk rumah panggung dipilih juga salah satunya untuk menghindari terjadinya banjir yang kerap terjadi. Tidak hanya itu, rumah adat Gorontalo, Dulohupa juga dibangun berdasarkan prinsip-prinsip dan kepercayaan masyarakat adat setempat.

Filosofi dan Makna Bagian Atas Rumah

Atapnya terbuat dari jerami terbaik dan berbentuk pelana, yaitu atap segitiga bersusun dia yang menggambarkan syariat dan adat penduduk Gorontalo. Atap bagian atas menggambarkan kepercayaan masyarakat gorontalo terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan agama dua hal tersebut merupakan kepentingan utama di atas yang lainnya.

Sedangkan atap bagian bawah menggambarkan kepercayaan penduduk Gorontalo terhadap adat istiadat serta budaya leluhur. Dulunya pada bagian puncak atap terdapat dua batang kayu yang dipasang bersilang atau disebut dengan Talapua.

Masyarakat Gorontalo percaya jika Talapua dapat menangkal roh-roh Jahat. Seiring berkembangnya kepercayaan Islam, sekarang ini talapua sudah tidak dipasang lagi di rumah dulohupa.

Dinding dulohupa bagian depan terdapat Tange lo bu’ulu yang menggantung di samping pintu masuk rumah adat ini. Tange lo bu’ulu menggambarkan kesejahteraan penduduk Gorontalo.

Sementara itu bagian dalam rumah adat dulohupa bergaya terbuka dan tidak banyak sekat. Terdapat juga anjungan di dalam rumah yang dikhususkan sebagai tempat peristirahatan raja dan keluarga kerajaan.

Filosofi dan Makna Bagian Tengah Rumah

Bagian badan rumah termasuk dinding dan lantai terbuat dari kayu. Selain itu, rumah adat Gorontalo ini juga dilengkapi dengan pilar-pilar kayu sebagai hiasan serta ciri khas dari rumah adat Gorontalo. Selain itu rumah adat Dulohupa juga dilengkapi dengan dua buah tangga di bagian kanan dan kiri rumah.

Dua buah tangga di bagian muka tepatnya di kiri dan kanan yang disebut dengan tolihitu. Jumlah anak tangganya yang ganjil juga memiliki makna tersendiri.  Jumlah anak tangga biasanya terdiri dari lima sampai tujuh anak tangga . Angka lima menggambarakan rukun Islam dan lima falsafah hidup orang Gorontalo.

Kelima falsafah tersebut, yakni Bangusa talalo (menjaga keturunan). Lipu poduluwalu (mengambikan diri untuk membela negeri). Serta Batanga pomaya, Upango potombulu, dan Nyawa Podungalu (mempertaruhkan nyawa untuk mewakafkan dan mengorbankan harta).

Angka 7 menggambarkan tujuh tingkatan nafsu pada manusia. Ada amarah, lauwamah, mulhimah, muthmainnah, rathiah, mardhiah, dan kamilan. Dulohupa memiliki arti mufakat dalam bahasa daerah Gorontalo. Penamaan rumah adat dengan dulohupa berasal dari kisah terdahulu. Saat itu, rumah adat ini digunakan sebagai tempat musyawarah keluarga kerajaan dan juga ruang sidang bagia penghianat negara.

Penghianat akan disidang dalam tiga tahap pemerintahan, yakni Buwatulo Bala (tahap keamanan), Buwatulo Syara (Tahap Hukum Agama Islam), dan Buwatulo Adati (tahap hukum adat). kegunaan dulohupa lainnya adalah sebagai tempat merencanakan kegiatan pembangunan daerah serta menyelesaikan permasalahan penduduk setempat.

Sekarang ini dulohupa sudah difungsikan sebagai tempat pagelaran upacara adat. Misalnya saja acara pernikahan serta pagelaran budaya dan seni. Dalam rumah adat ini terdapat perlengkapan perkawinan adat Gorontalo, seperti palaminan, busana adat pengantin, hingga perhiasannya.

Makna dan Filosofi Bagian Bawah Rumah

Pada rumah tradisional dulohupa terdapat beberapa jenis pilar. Pilar utama atau wolihi berjumlah dua buah, pilar depan berjumlah enam buah, dan pilar dasar atau potu berjumlah 32 buah.

Wolihi atau pilar utama menempel di atas tanah langsung ke rangka atap. Wolihi merupakan simbol ikrar persatuan dan kesatuan yang kekal abadi antara dua bersaudara 14 Gorontalo – Limboto (janji lou dulowo mohutato – Hulontalo- Limutu) di tahun 1664.

Angka dua juga menggambarkan delito atau pola adat dan syariat. Keduanya merupakan prinsip hidup masyarakat Gorontalo dalam urusan pemerintahan maupun kehidupan sehari-hari.

Sama halnya dengan pilar utama, pilar depan juga menempel di atas tanah langsung ke bagian rangka atap. Pilar-pilar ini menggambarkan enam sifat utama atau ciri penduduk (lou dulowo limo lopahalaa).

Keenam sifat tersebut, yakni sifat tinepo atau tenggang rasa. Sifat tombulao atau hormat. Sifat tombulu atau bakti kepada penguasa. Juga sifat wuudu atau sesuai kewajaran. Serta  adati atau patuh pada peraturan dan sifat butoo atau tat pada keputusan hakim.

Potu atau pilar dasar yang berjumlah 32 buah menggambarkan 32 penjuru mata angin. Dulunya pilar-pilar ini dikhususkan untuk golongan raja dan bangsawan. Bentuknya yang ada di serambi depan adalah persegi panjang atau balok berjumlah 4, 6, atau 8.

Hal tersebut menggambarkan jumlah budak yang dimiliki oleh raja. Seiring berjalannya waktu pilar tersebut masih digunakan walaupun tanpa makna tertentu dan tidak harus pada rumah raja atau bangsawan.

Penduduk gorontalo banyak yang menyelenggarakan pernikahan mereka di rumah adat ini. Selain kental dengan nuansa Gorontalo juga sebagai pelajaran bagi generasi muda akan budayanya sendiri.

Bantayo Poboide

rumah adat gorontalo
situsbudaya.id

Bantayo poboide merupakan rumah adat Gorontalo yang berada di Limboto. Secara bahasa bantayo poboide memiliki arti rumah musyawarah adat. Bangunan tradisional ini diprakarsai oleh Letkol AU M Liputo dan diresmikan tepat pada tanggal 23 Rabiul Awal tahun 1405 Hijriah atau tanggal .Januari 1985. Bantayo poboide tidak hanya menarik dari segi artistiknya, tapi juga merupakan kebanggaan masyarakat Gorontalo.

Keywords: Rumah Adat Gorontalo

Avatar
About Sofiyah Alghiptiah 34 Articles
not a wormbook just love to read and write

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.