Rumah Adat Bengkulu Bubungan Lima dan Rumah Adat Lebong

rumah adat bengkulu
nesabanmedia.com

Rumah Adat Bengkulu dari Provinsi Bengkulu disebut dengan Rumah Bubungan Lima. Rumah tradisional ini memiliki bentuk seperti rumah panggung dengan beberapa tiang penyangga dibagian bawah rumah. Masyarakat Suku Serawai yang berada di Bengkulu Selatan menyebut rumah tradisional mereka dengan nama Rumah Berugau Bandung.


Rumah Adat Bengkulu


Provinsi Bengkulu beribu kota di Kota Bengkulu. Letaknya berada di bagian barat daya Pulau Sumatra. Bengkulu sebagai ibukota provinsi juga terkenal akan Bunga Raflessia Arnoldi.

Etnis atau suku bangsa yang mendiami wilayah Bengkulu, diantaranya Suku Rejang, Jawa, Serawai, Minangkabau, Sunda, Melayu Bengkulu, Batak, Bali, Bugis, Tionghoa, dan lainnya. Bahasa Rejang menjadi bahasa paling dominan yang digunakan disana. Selain Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ada beberapa bahasa daerah lain yang digunakan, seperti Basemah, Enggano, Kaur, Serawai, dan lainnya.

Seni dan kebudayaan di Bengkulu memiliki beberapa ciri yang berbeda karena pengaruh suku-suku yang mendiami daerah tersebut. Budaya paling dominan berasal dari suku Rejang, Serawai, dan Lembak. Bengkulu memiliki kerajinan tradisional berupa batik besurek. Batik besurek merupakan kain batik ddengan motif huruf arab gundul.

Rumah Bubungan Lima

Bubungan lima merupakan nama rumah adat bengkulu yang masih tradisional. Material utama yang digunakan untuk membangun rumah ini adalah kayu medang kemuning atau suriam balam. Lantainya terbuat dari papan, sedangkan atapnya terbuat dari ijuk enau atau sirap.

Pada bagian depan terdapat tangga yang anak tangganya berjumlah ganjil karena berkaitan dengan nilai adat. Tangga tersebut digunakan sebagai akses naik – turun rumah.

Bubungan lima merupakan salah satu bentuk rumah tahan banjir yang merepresentasikan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bengkulu.

Ringkasan Tentang Rumah Bubungan Lima

Jenis rumahnya berbentuk rumah panggung. Ruangan yang terdapat di rumah Adat Bengkulu, antara lain ada barendo, hall, bilik gadis, ruang tengah, ruang makan, garang, dapur, dan barendo belakang.

Fungsi dari rumah Bubungan Lima biasanya digunakan untuk ritual adat, menyambut tamu, menyambut kelahiran, pesta perkawinan, serta upacara kematian. Bangunan menggunakan material kayu medang, lantai dari papan bambu atau pelupuh, atap dari ijuk atau serap, bahkan seng.

Rumah Adat Lebong

rumah adat bengkulu
kumparan.com

Lebong merupakan sebuah kabupaten yang berada di Provinsi Bengkulu. Kabupaten Lebong terkenal karena adanya Taman Nasional Kerinci Sebelat. Tak hanya itu dahulu saat zaman penjajahan Belanda tempat ini dikenal sebagai lokasi tambang emas.

Suku yang tinggal di Lebong adalah suku Rejang. Dahulu suku Rejang tinggal di dalam sebuah pigai, yaitu perbatasan kampung. Pigai merupakan sebuah parit dengan kedalaman 2,6 meter dan lebar sekitar 2,5 meter. Dibuatnya pigai tak lain untuk melindungi penduduknya dari gangguan binatang buas dan musuh.

Hunian komunal Rejang purba yang berbentuk dome. Pigai terbuat dari kayu yang dibuat melingkar dengan atap ilalang. Bentuknya mirip dengan Honai khas Papua. Saat ini rumah seperti itu sudah tidak ada lagi.

Masyarakat Rejang di Lebong juga mempunyai rumah adat tradisional berbentuk rumah panggung. Rumah adat tersebut tidak mempunyai sebutan tertentu. Masyarakat disana menyebutnya rumah adat Lebong saja.

Semua rumah Suku Rejang sangat sederhana karena dahulu peralatan dan bahan pembuat rumah masih sangat terbatas. Mereka mendirikan rumah tradisional dengan model rumah panggung. Bentuknya persegi panjang dan dibuat agak tinggi untuk menghindari serangan binatang buas.

Bagian puncak rumah atau bubung dinamakan bubung jamben (siring) atau bubung tebelayea (tebing layar). Atapnya berbahan dasar ijuk, ilalang, atau atap sirap. Terdapat juga kajang, dinding sisip dari papan yang susunannya tegak ke atas.

Jendelanya pada bagian atas setinggi kening orang dewasa berdiri dan bagian bawah setinggi kening orang dewasa bila duduk. Jumlah anak tangga tergantung pada tinggi rumah. Biasanya terdiri dari 3, 5, 7, atau 9 anak tangga. Jumlah rumah di setiap kampung sekitar 30-40 rumah dengan pagar dari bambu atau kayu.

Keywords: Rumah Adat Bengkulu

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.