10 Jenis Metode Penelitian Beserta Pengertian dan Contohnya

√ 10 Jenis Metode Penelitian Beserta Pengertian dan Contohnya
integrasi-edukasi.org

Metode Penelitian – Ilmu merupakan kunci manusia membangun peradaban. Ia – ilmu – dapat diperoleh dari manapun, hanya saja proses untuk mendapatkan ilmu yang memiliki nilai kebenaran harus dilandasi oleh cara berpikir yang rasional berdasarkan logika dan berpikir empiris sesuai dengan fakta.

Maka salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan ilmu ialah dengan melalui penelitian. Penelitian menjadi salah satu cara yang dianggap akurat untuk mendapatkan ilmu karena penelitian merupakan penyelidikan yang terkelola, sistematis, rasional, empiris, dan kritis.

Penelitian bisa menjadi upaya dalam memecahkan masalah untuk mengambil suatu keputusan karena sifatnya yang ilmiah yakni yang memenuhi persyaratan seperti yang telah disebutkan di atas.

Proses berpikir ilmiah dalam penelitian tersebut tentu akan mudah dicapai jika dipandu dengan suatu metode penelitian , dimana metode ini merupakan prosedur yang sistematik berdasarkan prinsip dan teknik ilmiah. Jika diartikan secara sederhana metode penelitian ini adalah cara agar penelitian memenuhi persyaratan ilmiah.


Jenis Metode Penelitian


tekno.tempo.co

Metode Penelitian tersebut sangat terikat dengan paradigma penelitian yang berkembang. Paradigma penelitian sendiri adalah cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap teori.

Adapun paradigma penelitian yang cukup dominan yaitu paradigma kualitatif, kuantitatif, dan campuran (gabungan kualitatif dan kuantitatif). Untuk mengetahui penjelasan dari masing-masing paradigma tersebut dapat di lihat di bawah ini:

Penelitian Kualitatif

Menurut Creswell penelitian kualitatif merupakan riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif.

Terdapat perbedaan mendasar terkait landasan teori yang dipakai pada penelitian kualitatif dan kuantitatif. Pada penelitian kuantitaif penelitian berangkat dari teori menuju data, yang berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan.

Sedangkan pada penelitian kualitatif peneliti berangkat dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan kemudian berakhir dengan suatu “teori”.

Dalam penelitian ini instrumen kunci terdapat pada peneliti sendiri. Hal tersebut kemudian mengharuskan peneliti memiliki bekal teori yang kuat, serta wawasan yang luas sehingga peneliti mampu bertanya, menganalisis,mengkonstruksi objek yang diteliti menjadi lebih valid dan reliabel.

Adapun jenis-jenis penelitian kualitatif dapat di lihat di bawah ini:

1. Penelitian Deskriptif

Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berupaya mendeskripsikan gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat ini.

Jenis penelitian ini memiliki langkah-langkah tertentu dalam pelaksanaannya di antaranya yaitu: bermula dari adanya masalah, menentukan jenis informasi yang dibutuhkan, menentukan prosedur pengumpulan data dengan observasi atau pengamatan, kemudian dilakukan pengolahan informasi atau data, dan terakhir menarik kesimpulan.

2. Studi Kasus

Secara sederhana penelitian studi kasus dapat diartikan dengan penelitian yang mempelajari secara intensif dan mendalam seorang individu atau kelompok yang dipandang mengalami kasus tertentu.

Data dapat diperoleh dari berbagai sumber. Teknik memperoleh data pun sangat komprehensif seperti observasi perilaku, wawancara analisis dokumenter,dan juga tes tergantung dengan kasus yang sedang diteliti.

Adapun kelebihan dari penelitian studi kasus ini adalah bahwa subyek penelitian dapat dipelajari peneliti secara menyeluruh dan mendalam.

Sedangkan kelemahannya adalah informasi yang didapat sangat subyektif, yang berarti hanya untuk individu yang bersangkutan dan belum tentu dapat digunakan untuk kasus yang sama pada individu/kelompok lain.

3. Biografi

studi biografi merupakan penelitian tentang individu dan pengalamannya, yang ditulis kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip.

Tujuan dari studi ini adalah untuk mengungkap pengalaman menarik yang sangat memengaruhi serta mengubah hidup seseorang.

4. Fenomenologi

Penelitian ini berupaya menjelaskan dan mengungkapkan konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu.

5. Grounded Theory

Konsep dasar dari penelitian ini adalah mengembangkan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa yang dipelajari.

6. Etnografi

Etnografi sendiri merupakan uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. Berupa sebuah proses sekaligus hasil dari sebuah penelitian. Sehingga penelitian etnografi membutuhkan waktu yang sangat lama.

Karena memang penelitian ini melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, yang mana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau juga dapat melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut.

Penelitian Kuantitatif

Image Source: moondoggiesmusic.com

Penelitian kuantitatif merupakan metode penelitian untuk menguji teori-teori tertentu dengan meneliti hubungan antar variabel.

Variabel-variabel tersebut diukur dengan instrumen penelitian atau teknik lainnya yang  menghasilkan data berupa angka dan kemudian dapat dianalisis dengan prosedur statistik. Adapun jenis penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut:

1. Penelitian Survei

Penelitan survei biasanya dilakukan untuk mengetahui variabel seperti pendapat, persepsi, sikap, prestasi, dan motivasi.

Misalnya, persepsi manajer terhadap otonomi karyawan di perusahan x, atau bagaimana persepsi siswa terhadap guru BK di sekolah X, dll. Penelitian ini juga cukup populer digunakan untuk pemecahan masalah perilaku organisasitermasuk kepentingan perumusan kebijakan sumber daya manusia.

2. Studi Kausal Komperatif

Studi kausal komperatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat pada sebuah fenomena yang diteliti.

Penyelidikan kemungkinan sebab akibat tersebut dilakukan dengan cara yang berdasar yakni atas pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.

3. Studi Korelasional

Penelitian ini mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yaitu sejauh mana variasi dalam satu variabel berhubungan dengan variasi dalam variabel lain.

Derajat hubungan variabel dinyatakan dalam koefesien korelasi. Terdapat dua jenis koefesien korelasi yaitu positif dan negatif.

Koefesien korelasi positif menunjukkan hubungan yang berbanding lurus, misalkan terdapat korelasi positif antara variabel upah kerja dan kinerja. Hal ini berarti upah kerja yang tinggi akan diikuti dengan kinerja yang tinggi.

Dan sebaliknya korelasi negatif menunjukkan bahwa nilai tnggi pada suatu variabel akan diikuti nilai rendah pada variabel lainnya.

4. Penelitian Eksperimen

Penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode sistematis untuk membangun hubungan yang mengandung fenomena seba akibat.

Pada penelitian ini peneliti harus membagi objek atau subjek yang ditelit menjadi dua kelompok yaitu kelompok treatment yang mendapat perlakuan (sesuai dengan eksperimen yang ingin diketahui) dan kelompok kontrol yang tidak mendapat perlakuan.

Misalnya ingin menguji apakah metode permainan ular tangga dalam pelajaran matematika dapat meningkatkan motivasi belajar matematika.

Maka terdapat dua kelompok yang diteliti, kelompok pertama kelompok yang mendapatkan metode permainan tersebut, dan kelompok kedua adalah kelompok yang tidak mendapat metode tersebut.


Perbedaan Metode Penelitian Kuantitatif dengan Kualitatif


Image Source: moondoggiesmusic.com

Melihat penjelasan di atas dapat diketahui bahwa terdapat beberapa perbedaan umum mengenai metode kualitatif dan kuantitatif. Untuk lebih jelasnya lihat perbedaan tersebut pada tabel berikut ini:

Metode Penelitian Kuantitatif

  • Menggunakan hipotesis yang ditentukan sejak awal penelitian
  • Definisi secara jelas dipaparkan sejak awal
  • Reduksi data menjadi angka-angka
  • Lebih memilih mementingkan reliabilitas skor yang diperoleh melalui instrumen penelitian
  • Penilaian validitas dilakukan dengan menggunakan berbagai prosedur dengan mengandalkan hitungan statistik
  • Menggunakan deskripsi prosedur secara jelas dan terperinci
  • Sampling random
  • Menggunakan desain/kontrol statistik dalam varabel ekstern
  • Terdapat desain khusus untuk dapat mengontrol bias prosedur
  • Kesimpulan hasil disajikan dengan menggunakan statistik
  • Gejala-gejala dipecah menjadi bagian-bagian untuk dianalisis
  • Memanipulasi situasi atau kondisi, dan aspek dalam mempelajari gejala yang kompleks

Metode Penelitian Kualitatif

  • Hipotesis dikembangkan seiring dengan berjalannya penelitian/saat penelitian
  • Definisi yang dipaparkan sesuai konteks atau saat penelitian berlangsung
  • Berupa deskripsi yang naratif/kata-kata,ungkapan atau pernyataan
  • Biasanya menganggap cukup dengan reliabilitas penyimpulan
  • Penilaian validitas dilakukan melalui pengecekan silang atas sumber informasi
  • Menggunakan deskripsi prosedur yang naratif
  • Sampling purposive
  • Menggunakan analisis logis untuk mengontrol variabel ekstern
  • Peneliti merupakan tokoh utama dalam mengontrol bias
  • Kesimpulan hasil disajikan secara naratif kata-kata
  • Gejala yang terjadi dilihat dalam perspektif keseluruhan
  • Membiarkan keadaan aslinya/tidak merusak gejala-gejala yang terjadi secara alamiah

Contoh Metode Penelitian di Bidang Agro/ Pertanian


suaraindonesia-news.com

Dalam sebuah proposal riset, metode penelitian biasanya terdapat pada bagian BAB III di dalam proposal. Dimana pada bab ketiga tersebut dibahas secara detail mengenai metode penelitian mulai dari penjelasan bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian hingga analisa-analisa yang dilakukan.

Berikut kami berikan contoh Metode Penelitian di dalam proposal riset mengenai pemaanfaatan Kulit Buah Kakao (KBK), material lignoselulosa, sebagai sumber bioetanol.

Jadi dalam penelitian ini, konversi Kulit Buah Kakao (KBK) menjadi etanol dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu tahapan perlakuan pendahuluan (pre-treatment) dengan Ca(OH)2, tahapan hidrolisis enzimatis menggunakan Trichoderma viride, dan tahapan fermentasi oleh Saccharomyces cereviseae.

 BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Alat Dan Bahan

3.1.1. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah limbah kuit buah kakao dari Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat, khamir Trichoderma viride yang diperoleh dari koleksi laboratorium Bioteknologi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, ragi roti Fermipan (Saccharomyces cerevisiae), PDA (Potato Dextrose Agar) (Sigma), medium PDB (Potato Dextrose Broth) (Merck), tween 80 (Merck), gliserol (Merck), glukosa (Merck), HNO3 (Merck), NaOH (Sigma), Na2SO3 (Merck), NaClO3 (merck), CH3COOH (Sigma), (NH4)2SO4 (Merck), KH2PO4 (Merck), urea, CaCl2 (Merck), MgSO4 (Merck), HCl pekat (Merck), FeSO4.7H2O (Merck), ZnCl2 (Merck), CoCl2 (Merck)], akuades, reagen dinitrosalicyclic acid (DNS) (Merck), dan asam sulfat.

3.1.2. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah erlenmeyer, kertas whatman, oven, waterbath, blender, pengayak, autoklaf, kromatografi gas, spektrofotometer, pH meter, timbangan analit, cooling bath, sprayer, sentrifuse, cell counter dan rotary shaker.

3.2. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di laboratorium Kimia dan Biokimia Pangan dan Hasil Pertanian (KBPHP) dan Laboratorium Bioteknologi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada.

3.3. Tahapan Penelitian

3.3.1. Alur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam lima tahap. Pertama preparasi kulit buah kakao (KBK), kedua pre-treatment kulit buah kakao menggunakan Ca(OH)2, ketiga hidrolisis enzim dengan T. viride, keempat fermentasi kulit buah kakao dengan S. cereviseae dan yang kelima uji kadar etanol yang dihasilkan dari fermentasi serta analisa lainnya. Limbah kulit buah kakao didapatkan dari petani kakao di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

3.3.2. Preparasi Kulit Buah Kakao (KBK)

Kulit buah kakao (KBK) dipotong dengan ukuran ± 0.5 cm kemudian dicuci untuk menghilangkan kotoran yang tidak diinginkan dan dikeringkan pada suhu 60°C hingga kadar air kurang dari 10% (wb) (Maas, 2008). Potongan KBK ini dianalisa kadar lignin, selulosa dan hemiselulosanya sebelum diberikan perlakuan pendahuluan (pre-treatment).

3.3.3. Perlakuan Pendahuluan (Pre-treatment)

Perlakuan pendahuluan dengan menggunakan kalsium hidroksida Ca(OH)2 berdasarkan metode Bakker et al. (2008), yaitu dengan mencampurkan Ca(OH)2, KBK (berat kering) dan aquades dengan perbandingan 1 (g) : 6.67 (g) : 100 (ml).

Rasio tersebut merupakan hasil orientasi dari penelitian sebelumnya oleh Orinda (2016) mengenai pembuatan bioetanol dari jerami padi. Pencampuran menggunakan gelas beker 1 L yang dilengkapi dengan tutup untuk menjaga agar aquades tidak menguap selama pemanasan. Kemudian dilakukan pemanasan pada suhu 85 °C selama 16 jam.

Setiap 1 jam dilakukan pengadukan agar transfer panas berjalan baik. Setelah 16 jam, kemudian dilakukan pencucian secara berulang dengan air mengalir dan dinetralkan dengan menggunakan larutan asam sulfat 20%.

Selanjutnya sampel dihilangkan airnya dengan cara di saring menggunakan kain saring dan dikeringkan pada suhu 60 oC hingga kadar air kurang dari 10%. KBK yang telah diberi perlakuan (treated) dapat langsung digunakan untuk analisa (kandungan lignin, selulosa, dan hemiselulosa) dan hidrolisis serta fermentasi tapi dapat juga disimpan pada suhu 4 °C.

3.3.4. Proses Hidrolisis Enzimatis

Hidrolisis selulosa secara enzimatis dilakukan dengan menumbuhkan mikroorganisme penghasil selulase (T. viride) secara langsung pada media selulosa yaitu dengan memodifikasi media Andreoti (Ariestaningtyas, 1991). Langkahnya sebagai berikut :

3.3.4.1. Penyegaran Kultur

T. viride disegarkan kembali supaya dapat memproduksi enzim secara optimal. T. viride digoreskan pada agar miring PDA (Potatoe Dextrose Agar) dan diinkubasi dalam inkubator pada suhu 28°C selama 7 hari.

3.3.4.2. Produksi Enzim

Media yang digunakan adalah modifikasi media Andreoti (Tabel 2.) dengan sistem kultivasi media padat. Selain media Andreoti juga ditambahkan pepton sebanyak 2%. Media padat dibuat dengan perbandingan antara selulosa dari limbah kulit kakao dan air (buffer sitrat pH 4,8) adalah 1:2. Media tersebut disterilisasi pada suhu 121°C selama 20 menit kemudian didinginkan lebih dahulu.

Tabel 2. Komposisi media Andreoti
Bahan Kimia                     Komposisi (%)
(NH4)2SO4                         0,14
KH2PO4                               0,3
Urea                                     0,03
CaCl2                                   0,03
MgSO4                                0,03
Selulosa limbah KBK     500 gram
Stok mineral                      1 ml
Aquades                          1000 ml

Komposisi stok mineral : 495 ml air suling dilarutkan 5 ml HCl pekat, 2,5 gram FeSO4.7H2O, 0,83 gram ZnCl2 dan 1 gram CoCl2

Spora biakan kapang T. viride yang sudah berumur 7 hari sebanyak satu agar miring disuspensikan dalam 10 ml air suling steril. Suspensi spora sebanyak 10% (v/v) diinokulasikan dalam media pertumbuhan yang telah disterilkan. Selanjutnya medium dan spora diinkubasi pada suhu 25°C selama 9 hari.

Sebelum dilakukan ekstraksi maka ditambahkan Tween 80 sebanyak 0,1%. Ekstraksi cairan fermentasi dilakukan pada hari kesembilan dengan jalan memisahkan filtrat dari biomassa dengan metode sentrifugasi pada 5000 rpm selama 15 menit pada suhu 4 °C. Hasil yang diperoleh berupa supernatan yang merupakan enzim kasar yang akan digunakan pada proses hidrolisis enzimatis.

3.3.4.3. Hidrolisis Enzimatis

Hidrolisis enzimatis berdasarkan metode yang dilakukan (Maryna, 2005) yang dimodifikasi. Hidrolisa dilakukan pada erlenmeyer 100 ml dengan menambahkan 5 g (berat kering) KBK treated, ditambahkan 25 ml 0,05 M buffer sitrat pH 5,5 atau konsentrasi substrat dalam campuran 10% (b/v), dan enzim kasar sebanyak 150 ml.

Selanjutnya campuran diinkubasi pada suhu 40 °C dan dishaker 160 rpm selama 0, 24, 48, 72, dan 96 jam. Hidrolisat yang diperoleh dianalisa kandungan gula reduksi menggunakan 3,5 asam dinitrosalisilat (DNS).

3.3.5. Proses Fermentasi

3.3.5.1. Preparasi Khamir Saccharomyces cerevisiae

Pembuatan starter S. cerevisiae diantaranya melalui proses regenerasi kultur dan starter pada media cair. Starter S. cerevisiae ini diperoleh dari ragi roti Fermipan.

3.3.5.2. Regenerasi Kultur (Fardiaz, 1992)

Khamir dalam bentuk ragi ini masih dalam keadaan tidak aktif. Oleh karena itu perlu diaktifkan dahulu. Ragi fermipan (Sacharomyces cerevisiae) diambil 5 g, kemudian dilarutkan dengan akuades 100 ml (40 °C), diaduk sampai larut, lalu dihomogenkan.

Metode yang digunakan untuk menumbuhkan khamir pada PDA (Potato Dextrose Agar) adalah metode tebar. Larutan ragi dimasukkan ke dalam agar miring PDA (Potato Dextrose Agar) sebanyak 10 ml dengan cara ditebar di permukaan media PDA (Potato Dextrose Agar) dan dibiakan dalam inkubator selama + 48 jam dengan kondisi aerobik pada suhu 30°C.

3.3.5.3. Starter pada Media Cair (Fardiaz, 1987)

Biakan pada PDA (Potato Dextrose Agar) diinokulasi sebanyak 5 jarum ose ke dalam PDB (Potato Dextrose Broth) 200 ml, kemudian diinkubasi selama + 48 jam dengan kondisi aerobik pada suhu 30°C. Hasil biakan ini akan dipakai pada fermentasi utama.

3.3.5.4. Fermentasi dengan Saccharomyces cerevisiae (Retno and Wasir, 2011)

Tahap fermentasi dilakukan dengan cara filtrat (hasil hidrolisis enzim) sebanyak 100 ml dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan 6 gram (NH4)2SO4 dan 6 gram urea sebagai nutrisi. Selanjutnya dipasteurisasi pada suhu 120 °C selama 15 menit lalu didinginkan.

Starter (inokulum awal) dengan berbagai variasi volume (0,0624 gram, 0,0936 gram, 0,1248 gram, 0,1560 gram) dimasukkan ke dalam medium fermentasi. Kemudian dilakukan inkubasi dengan cara menutup rapat labu erlenmeyer pada suhu berkisar antara 27- 30 °C selama waktu tertentu.

Percobaan diulangi dengan waktu fermentasi yang bervariasi yakni 48 jam, 96 jam, 144 jam dan 192 jam. Pengambilan cuplikan dilakukan di setiap variasi pada hari yang telah ditentukan setelah diberi inokulum kemudian di analisis kadar etanolnya.

3.4. Analisis

3.4.1. Analisis Hemiselulosa, Selulosa, dan Lignin

Kandungan hemiselulosa, selulosa, dan lignin pada KBK dianalisis sebelum dan setelah pre-treatment serta setelah hidrolisis enzimatis. Dilakukan dengan menggunakan metode Chesson yang telah dimodifikasi menurut Datta (1981).

Metode ini mempunyai prinsip untuk memisahkan komponen penyusun lignoselulosa dengan bantuan asam kuat dan suhu yang tinggi. Pengukuran kadar komponen sampel dilakukan dengan metode thermogravimetri.

Timbang KBK sebanyak 1 g (a) kemudian dimasukkan dalam gelas beker tambahkan 150 ml akuades, dipanaskan pada penangas air pada suhu 100 °C selama 2 jam. Bahan disaring dan dicuci dengan akuades hingga volume filtrat 300 ml dikeringkan pada oven suhu 105⁰C sampai beratnya konstan (b).

Residu kering dimasukkan dalam erlenmeyer 250 ml, diberi 150 ml H2SO4 1N, kemudian direfluk pada penangas air suhu 100 °C selama 1 jam. Kemudian penyaringan, residu dicuci dengan akuades panas sampai volume filtrat 300 ml (netral). Residu dikeringkan dan ditimbang (c).

Residu kering dimasukkan dalam erlenmeyer 250 ml, diberi 10 ml H2SO4 72% diamkan selama 4 jam pada suhu kamar, tambahkan 150 ml H2SO4 1N (pengenceran), direfluks pada pendingin balik selama 1 jam. Penyaringan dan dicuci dengan air panas sampai netral (volume filtrat sekitar 400 ml). Kemudian residu dikeringkan dan ditimbang (d), residu diabukan dan ditimbang (e).

3.4.2. Analisis Gula Reduksi (Miller, 1959)

Analisis gula reduksi menggunakan 3,5 asam dinitrosalisilat (DNS) berdasarkan metode (Miller, 1959). Caranya dengan mencampurkan 3 ml DNS dengan 3 ml sampel di dalam tabung reaksi tertutup. Kemudian dilakukan pemanasan pada suhu 90°C selama 10 menit untuk membentuk warna merah-coklat.

Selanjutnya ditambahkan larutan Na-K-tartrat 40% segera setelah pemanasan selesai, didinginkan pada suhu ruang. Kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 575 nm.

DNS yang digunakan dibuat dengan mencampurkan asam dinitrosalisilat 10 g, fenol 2 g, sodium sulfat 0,5 g, sodium hidroksida 10 g, dan akuades hingga volume larutan 1 L (Wang et al., 2012). Standar menggunakan larutan glukosa pada konsentrasi 0; 0,06; 0,12; 0,18; 0,24; 0,30 mg/ml.

3.4.3. Analisis Kadar Etanol

Pengukuran kadar etanol dengan metode kromatografi gas (GC) yang menggunakan jenis detektor flame ionization detector. Sebanyak 1 ml filtrat disentrifugasi pada 3000 rpm selama 10 menit pada suhu 4°C.

Supernatan yang diperoleh dan larutan kurva standar diinjeksi dalam kromatografi gas menggunakan mycrosyringe sebanyak 1 μl, kemudian diperoleh hasil peneraan. Larutan standar yang digunakan adalah alkohol yang diencerkan dengan air destilasi konsentrasi 0,01; 0,03; 0,05; 0,1; 0,2%. Kadar etanol ditentukan menggunakan persamaan kurva standar y = ax + b.

Dalam menyusun metode penelitian di dalam sebuah proposal, wajib dicantumkan sumber metode yang anda sitasi Sebuah penelitian dikatakan ilmiah, bila sumber metode yang diacu jelas dan sudah terbukti kebenarannya. Artinya metode yang anda gunakan terbukti secara ilmiah dan diakui di dunia secara publikasi.

Keyword: Jenis Metode Penelitian

Sara Apriana
About Sara Apriana 486 Articles
Lawan dari kaya adalah cukup, bukan miskin. Jadi sebetulnya ketika Allah menciptakan kita, rizki kita cukup, tidak ada yang miskin. Yang menjadikan kita miskin itu perasaan kita yang tidak pernah cukup. "dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberi kecukupan". (QS. An-Najm : 48) ~ Ust. Adi Hidayat

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.