√ 10 Teknik Pengambilan Sampel/Sampling | Pengertian,Tujuan, Tahapan

12 Teknik Pengambilan Sampel/Sampling | Pengertian,Tujuan, Tahapan

Teknik Pengambilan Sampel – Dalam suatu penelitian, seorang peneliti pasti tidak akan asing dengan sampel yang digunakan untuk penelitian berikut dengan tata cara bagaimana data sampel tersebut diperoleh.

Pengambilan data sampel yang baik akan menghasilkan data sampel yang baik pula, yaitu yang merepresentasikan populasi objek yang diteliti.

Namun, jika pada proses pengambilan sampel dilakukan secara asal-asalan akan berakibat hasil penelitian tidak merepresentasikan hasil yang sesungguhnya.

Oleh sebab itu, sebelum melakukan penelitian, maka seorang peneliti sebaiknya mengetahui tata cara pengambilan sampel yang baik dan benar.

Sampel merupakan data terkecil yang diperoleh dari populasi yang lebih besar. Merupakan bagian dari populasi penelitian yang digunakan untuk memperkirakan hasil penelitian. Suatu sampel harus mewakili keadaan populasi secara keseluruhan dan tidak bias terhadap atribut tertentu.

Sedangkan teknik pengambilan sampel adalah bagian dari metodologi statistik yang terkait dengan metode sampling/pengambilan sampel.

Dalam pengambilan data sampel, dibutuhkan teknik pengambilan sampel yang tepat agar merepresentasikan populasi dari sampel tersebut.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Teknik pengambilan sampel merupakan cara yang digunakan untuk pengumpulan dan pengolahan data sampel lalu dianalisa secara statistik.


Pengertian Sampling/Pengambilan Sampel


Image Source: displayr.com

Definisi pengambilan sampel atau metode pengambilan sampel sesuai dengan interpretasi beberapa ahli. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut;

  1. Sugiyono (2001: 56) → Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel (Sugiyono, 2001: 56).
  2. Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif (Margono, 2004)
  3. Teknik Pengambilan sampel yang Ideal mempunyai sifat-sifat (1) dapat menghasilkan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti, (2) dapat menentukan presisi dari hasil penelitian dengan menentukan simpangan baku dari taksiran yang diperoleh, (3) sederhana sehingga mudah dilaksanakan dan (4) dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya serendah-rendahnya (Triyono, 2003).

Tujuan Sampling/Pengambilan Sampel


Image Source: catchpoint.com

Dalam suatu penelitian, tidak perlu meneliti seluruh populasi, karena akan membutuhkan waktu yang lama serta memakan biaya yang banyak.

Dengan mengambil beberapa sampel dari populasi, diharapkan akan diperoleh hasil yang merepresentasikan sifat populasi yang bersangkutan. Pengambilan sampel memiliki beberapa tahapan dan tujuan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Masalah Biaya

Dalam suatu penelitian, besar-kecilnya biaya sangat ditentukan oleh jumlah objek yang diteliti. Semakin banyak objek yang diteliti maka akan membutuhkan biaya yang tinggi pula. Oleh sebab itu, sampling menjadi salah satu solusi untuk menekan biaya.

b. Masalah Waktu

Penelitian dengan menggunakan sampel tentu lebih sedikit bila dibandingkan dengan penelitian dengan menggunakan populasi terlebih lagi jika waktu penelitian sangat terbatas.

c. Percobaan yang Sifatnya Merusak

Dalam suatu kasus penelitian, ada kalanya penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merusak dan merugikan. Sebagai contoh tidak mungkin mengambil seluruh darah seorang pasien yang akan dianalisis darahnya.

d. Mewakili Populasi

Populasi terlalu banyak atau jangkauannya terlalu lebar sehingga tidak mungkin untuk mengumpulkan data pada seluruh populasi. Ada anggapan bahwa seluruh populasi seragam sehingga dapat diwakili oleh sampel.


Tahapan Sampling/Pengambilan Sampel


Image Source: medium.com

Teknik penarikan sampel sebenarnya bertujuan untuk memperkecil kesalahan generalisasi dari sampel ke populasi. Hal ini dapat tercapai apabila diperoleh sampel yang representatif, yaitu sampel yang benar-benar menggambarkan populasi sesungguhnya.

Terdapat 4 hal yang harus dipertimbangkan untuk menentukan besarnya sampel yaitu :

  1. Tingkat keseragaman dari populasi. Semakin homogen populasi, akan semakin kecil sampel yang diambil.
  2. Tingkat presisi (ketepatan, ketelitian) : semakin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki, maka akan semakin besar anggota sampel yang harus diambil.
  3. Rencana analisis; Terkadang jumlah sampel masih belum mencukupi kebutuhan analisis, sehingga mungkin diperlukan sampel yang lebih besar lagi.
  4. Teknik penentuan sampel yang digunakan

Penentuan ukuran sampel dipengaruhi oleh teknik penentuan sampel yang digunakan. Jika teknik yang digunakan tepat dan representatif, maka sampel juga terjaga. Teknik ini juga tergantung pada biaya, tenaga, dan waktu yang disediakan.

Dari keempat tahap di atas beberapa manfaat yang didapatkan meliputi;

  • Mendefinisikan populasi yang akan diamati
  • Tentukan kerangka sampel dan koleksi semua peristiwa yang mungkin
  • Tentukan teknik atau metode pengambilan sampel yang tepat
  • Melakukan pengambilan sampel (pengumpulan data)
  • Periksa kembali proses pengambilan sampel

Teknik Sampling/Pengambilan Sampel


Image Source: callcentrehelper.com

Metode pengambilan sampel bervariasi tergantung pada jenis penelitian yang akan dilakukan. Secara garis besar, metode pengambilan sampel terdiri dari 2 kelas besar, yaitu:

  1. Probability Sampling (Random Sample)
  2. Non- Probability Sampling (Non-Random Sample).

Kedua jenis terdiri dari pengambilan secara acak dan pengambilan sampel tidak acak. Kedua jenis ini juga memiliki sub-sub lainnya, termasuk purposive sampling, snowball samping, cluster sampling, dan lain sebagainya.

Sebelum menentukan teknik apa yang akan digunakan untuk mengambil sampel penelitian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : bagaimana teknik sampel diambil dan berapa banyak elemen populasi yang akan dijadikan sebagai anggota sampel.

Menurut sumber lain, ada tiga hal yang harus diperhatikan sebelum mengambil sampel, yaitu :

  • Dalam melakukan pengambilan sampel apakah dilakukan secara probabilitas atau non probabilitas
  • Apakah populasi terhingga atau tidak terhingga
  • Apakah populasi akan dipecah menjadi beberapa sub-populasi atau tidak.

Probability Sampling


Menurut Sugiyono (2001: 57), teknik probability sampling dapat memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Metode ini sering dianggap sebagai prosedur sampling terbaik.

Probability sampling adalah metode pengambilan sampel acak. Dengan cara pengambilan sampel ini, semua anggota populasi diasumsikan memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel penelitian. Metode ini dibagi menjadi beberapa tipe yang lebih spesifik, termasuk:

1. Pengambilan Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling)

Teknik pengambilan sampel menggunakan metode ini memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk menjadi sampel penelitian. Cara mengambilnya menggunakan nomor undian.

Pengambilan sampel teknik ini dikatakan cukup simpel karena metode ini memberikan peluang yang sama kepada setiap anggota dari populasi untuk dipilih menjadi sampel. Dalam prakteknya peneliti mencampur subjek-subjek di dalam populasi, sehingga semua subjek dianggap sama.

Dengan demikian, maka peneliti memberi hak yang sama kepada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel.

Ada 2 pendapat tentang metode pengambilan sampel acak sederhana.

  • Pendapat pertama menyatakan bahwa setiap nomor yang dipilih harus dikembalikan lagi sehingga setiap sampel memiliki persentase peluang yang sama.
  • Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak ada pengembalian yang diperlukan pada pengambilan sampel menggunakan metode ini. Namun, metode yang paling umum digunakan adalah Simple Random Sampling dengan pengembalian.

Keuntungan dari metode ini adalah dapat mengurangi bias dan dapat mengetahui standar error penelitian.

Sedangkan kekurangannya adalah bahwa tidak ada jaminan bahwa sampel yang dipilih benar-benar dapat mewakili populasi yang dimaksud atau populasi yang diteliti.

Dengan Metode ini sampel akan diacak tanpa mempertimbangkan tingkatan yang ada dalam populasi tersebut. Syarat-syarat menggunakan metode Simple random sampling adalah sebagai berikut

a. Pemilihan metode ini hanya dilakukan jika anggota populasi dianggap homogen.
b. Metode ini dapat digunakan apabila jumlah unit sampling suatu populasi tidak terlalu besar

Contoh Pengambilan Sampel Metode Acak Sederhana:

Dalam sebuah penelitian dibutuhkan 30 sampel, sedangkan populasi penelitian adalah 100 orang. Selanjutnya peneliti membuat undian untuk mendapatkan sampel pertama.

Setelah mendapatkan sampel pertama, nama yang dipilih dikembalikan lagi sehingga populasi tetap utuh sehingga probabilitas responden berikutnya tetap sama dengan responden pertama. Langkah ini dilakukan lagi hingga jumlah sampel memenuhi kebutuhan penelitian.

2. Pengambilan Sampel Acak Sistematis (Systematic Random Sampling)

Metode pengambilan sampel acak sistematis memakai interval dalam memilih sampel penelitian. Sebagai contoh, sebuah penelitian membutuhkan 10 sampel dari 100 orang, sehingga jumlah kelompok adalah 100/10 = 10.

Kemudian responden dibagi menjadi setiap kelompok kemudian diambil secara acak oleh masing-masing kelompok.

Contoh nya: mengambil sampel untuk setiap orang ke 10 yang datang ke puskesmas. Jadi setiap orang yang datang dalam urutan 10,20,30 dan seterusnya itulah yang dijadikan sampel penelitian.

3. Pengambilan Sampel Acak Berstrata (Stratified Random Sampling)

Pada teknik ini, populasi distratakan terlebih dahulu yaitu dengan menyesuaikan sifat-sifat atau ciri-ciri suatu populasi. Selanjutnya pemilihan sampel dilakukan dengan melakukan undian atau menggunakan tabel bilangan random.

Metode ini mengambil sampel berdasarkan level tertentu. Misal penelitian tentang motivasi kerja pada manajer tingkat atas, manajer tingkat menengah dan manajer tingkat bawah. Proses pengacakan diambil dari masing-masing kelompok itu.

4. Teknik random bertahap atas dasar strata

Sama halnya dengan teknik random atas dasar strata sebelumnya, populasi harus distratakan terlebih dahulu berdasarkan sifat-sifatnya. Namun, pemilihan sampel pada teknik ini dilakukan secara bertahap. Berikutnya, sampel dalah setiap tahapan tadi dipilih dengan cara diundi atau dengan menggunakan tabel bilangan random.

5. Teknik random atas dasar himpunan

Pada teknik ini, populasi dibagi menjadi dasar-dasar himpunan dimana populasi tersebut menyebar. Dalam hubungan ini yang diacak adalah himpunannya. Himpunan yang terpilih sebagai sampel, maka seluruhnya menjadi sampel penelitian.

Cara mengacak untuk mendapatkan himpunan-himpunan yang menjadi sampel dapat dilakukan dengan pengundian atau bisa juga dengan menggunakan tabel random.

6. Pengambilan Sampel Acak Berdasar Area (Cluster Random Sampling)

Pengambilan sampel jenis ini dilakukan berdasarkan kelompok / area tertentu. Tujuan dari metode Cluster Random Sampling adalah, antara lain, untuk memeriksa sesuatu di berbagai bagian instansi.

Misalnya, penelitian tentang kepuasan pasien di ruang rawat inap, ruang gawat darurat, dan ruang poli di Rumah Sakit A dan sebagainya.

7. Teknik Pengambilan Sampel Acak Bertingkat (Multi Stage Sampling)

Teknik Pengambilan Sampel Acak Bertingkat (Multi Stage Sampling), jenis proses pengambilan sampel ini dilakukan secara bertingkat. Baik itu tingkat dua, tiga,empat atau lebih.

Misal= Kecamatan -> Gugus -> Desa -> RW – RT


Non-Probability Sampling


Teknik non-probability sampling merupakan teknik yang tidak memberikan peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur (anggota populasi) untuk dipilih menjadi sampel.

1. Purposive Sampling

Purposive Sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang sering digunakan. Metode ini menggunakan kriteria yang telah dipilih oleh peneliti dalam memilih sampel. Kriteria untuk memilih sampel dibagi menjadi kriteria inklusi dan eksklusi.

Kriteria inklusi adalah kriteria sampel yang diinginkan oleh peneliti berdasar pada tujuan penelitian. Sedangkan kriteria eksklusi adalah kriteria spesifik yang menyebabkan calon responden yang memenuhi kriteria inklusi dikeluarkan dari kelompok penelitian.

Misal, calon responden mengalami komorbiditas atau kelainan psikologis yang bisa memengaruhi hasil dari penelitian.

Sampel purposif dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan berdasarkan atas strata, random atau daerah. Tetapi berdasarkan atas adanya tujuan tertentu. Teknik ini digunakan untuk penelitian yang memiliki pertimbangan seperti keterbatasan waktu, tenaga dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel dalam jumlah besar.

Sampling yang purposif merupakan sampel yang dipilih dengan cermat sehingga relevan dengan desain penelitian. Yang perlu diperhatikan jika menggunakan teknik ini adalah peneliti harus berusaha agar dalam pemilihan sampel terdapat wakil-wakil dari setiap lapisan populasi. Dengan demikian, sampel yang diambil cukup representatif.

Contoh Purposive Sampling:

penelitian tentang rasa sakit pada pasien dengan diabetes mellitus yang mengalami cedera pada kaki.

Kemudian kriteria inklusi yang digunakan meliputi:

  • Penderita Diabetes Mellitus dengan luka gangren (cedera pada kaki)
  • Umur 18-59 tahun
  • Dapat membaca dan menulis

Kriteria eksklusi:

  • Penderita diabetes mellitus yang memiliki komorbiditas lain seperti gangguan ginjal, gagal jantung, nefropati, dan sebagainya.
  • Penderita diabetes mellitus yang mengalami gangguan kejiwaan.

2. Snowball Sampling

Teknik pengambilan sampel bola salju (snowball) adalah metode pengambilan sampel di mana sampel diperoleh melalui proses bergulir dari satu responden ke yang lain, biasanya metode ini digunakan untuk menjelaskan pola sosial atau komunikasi (sosiometrik) dari komunitas tertentu.

Atau dengan kata lain, dalam menentukan sampel, satu atau dua orang pertama dipilih, tetapi karena dengan dua orang ini mereka tidak merasa lengkap tentang data yang diberikan, peneliti mencari orang lain yang terlihat tahu lebih baik dan dapat menyelesaikan data di berikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel bertambah.

Metode pengambilan sampel Snowball atau Bola salju ini sangat cocok untuk penelitian mengenai hal-hal yang sensitif dan membutuhkan privasi tingkat tinggi, misalnya penelitian tentang kaum waria, penderita HIV, dan kelompok khusus lainnya.

3. Accidental Sampling

Teknik pengambilan sampel didasarkan pada kebetulan, yaitu siapa saja yang dianggap pantas dan tidak sengaja bertemu dengan peneliti dapat dijadikan sampel.

Sampel aksidental merupakan sampel yang diambil dari siapa saja yang kebetulan ada. Contohnya seperti menanyakan kepada siapa saja yang dijumpai oleh peneliti untuk meminta pendapat mereka mengenai suatu hal. Namun, sampel ini tidak representatif sehingga sulit untuk mengambil kesimpulan yang bersifat generalisasi.

Contoh lain penggunaan metode ini, peneliti ingin meneliti tentang penyakit Steven Johnson Syndrom yaitu penyakit yang merusak seluruh mukosa atau lapisan tubuh akibat reaksi tubuh terhadap antibiotik.

Kasus Steven Johnson Syndrome ini cukup langka dan sulit sekali menemukan kasus tersebut. Dengan demikian, peneliti mengambil sampel saat itu juga, saat menemukan kasus tersebut. Kemudian peneliti melanjutkan pencarian sampel hingga periode tertentu yang telah ditentukan oleh peneliti.

Tehnik pengambilan sampel dengan cara ini juga cocok untuk penelitian yang bersifat umum, misalnya seorang peneliti ingin meneliti kebersihan Kota Bandung. Selanjutnya dia menanyakan tentang kebersihan Kota Bandung pada warga Bandung yang dia temui saat itu.

4. Quota Sampling

Sampling quota adalah metode yang memilih sampel berdasarkan ciri-ciri tertentu dalam jumlah quota yang diinginkan. Pada teknik ini jumlah populasi tidak diperhitungkan, akan tetapi diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok.

Lalu sampel diambil dengan memberikan jatah atau quota tertentu pada setiap kelompok yang seolah-olah berkedudukan masing-masing sebagai sub populasi. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling. Setelah jatahnya untuk setiap kelompok terpenuhi, maka pengumpulan data dihentikan.

Biasanya teknik quota sampling ini menggunakan data dari populasi yang berkaitan dengan demografi (populasi) seperti: lokasi geografis, usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, dan lain-lain. Pada dasarnya kuota sampling sama dengan Judgment sampling, ada dua tahap.

Tahap pertama adalah tahap di mana peneliti merumuskan kategori kontrol atau kuota populasi yang akan dipelajari, seperti: jenis kelamin, usia, ras yang terdefinisi dengan baik sebagai dasar dari keputusan pemilihan sampel.

Tahap kedua adalah menentukan bagaimana sampel akan diambil, dapat berupa Kenyamanan atau penilaian tergantung pada situasi dan kondisi pada saat penelitian akan dilakukan dan apa yang akan dipelajari serta kemampuan para peneliti itu sendiri.

Teknik pengambilan sampel dengan cara ini biasanya digunakan dalam penelitian yang memiliki jumlah sampel terbatas. Misalnya, penelitian pada pasien lupus atau pengidap penyakit tertentu. Di wilayah 10 orang penderita lupus, populasi dijadikan sampel secara keseluruhan, inilah yang disebut Pengambilan Kuota Total.

5. Teknik Sampel Jenuh

Teknik sampel jenuh digunakan jika semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan jika jumlah populasi relatif kecil dan kurang dari 30 orang. Teknik pengambilan sampel ini diterapkan jika suatu penelitian ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat sedikit.

Keyword: Teknik Pengambilan Sampel

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.