Waktu Sholat Dhuha Sesuai Dalil Shahih yang Ada

√ Waktu Sholat Dhuha Sesuai Dalil Shahih yang Ada
bincangsyariah.com

Waktu sholat dhuha masih saja banyak dipertanyakan bahkan diperdebatkan. Sholat dhuha sendiri merupakan shalat sunnah yang dipercaya dapat memudahkan atau memperlancar rezeki bila dilaksanakan.

Dhuha sendiri berarti waktu (matahari) sepenggalang naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya hingga menjelang dzuhur.


Waktu Sholat Dhuha


Banyak orang yang meributkan jika shalat dilaksanakan disaat waktu matahari benar-benar sepenggalang naik. Padahal kurun waktu shalat dhuha tidak sesingkat itu.

Sama seperti shalat-shalat lainnya waktu untuk melaksanakan shalat dhuha pun terdapat aturannya tersendiri. Baik dari segi waktu maupun rakaatnya.

Waktu shalat dhuha terbaik untuk mengerjakan shalat dhuha adalah pada saat matahari terik. Dengan kata lain waktu paling utama dalam mengerjakan shalat dhuha ialah di akhir waktunya.

Waktu Sholat Dhuha yang Utama

Waktu untuk melakukan sholat dhuha yang lebih utama adalah seperempat siang. Di Arab, waktu itu ditandai dengan padang pasir terasa sangat panas dan anak unta beranjak. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Bahwasanya Zaid bin Arqam melihat orang-orang mengerjakan shalat Dhuha (di awal pagi). Dia berkata, “Tidakkah mereka mengetahui bahwa shalat di selain waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Shalat orang-orang awwabin (taat; kembali pada Allah) adalah ketika anak unta mulai kepanasan’” (HR. Muslim)


Jumlah Rakaat Waktu Sholat Dhuha


Masih sering kita jumpai pada masyarakat Muslim yang bingung mengenai jumlah rakaat ketika akan mengerjakan shalat dhuha.

Tidak ada perselisihan antara para ulama mengenai jumlah minimal rakaat shalat dhuha, yakni 2 rakaat. Hal ini ditetapkan berdasarkan hadits-hadits mengenai keutamaan shalat dhuha.

Meski begitu terdapat perbedaan mengenai berapa jumlah maksimal shalat dhuha dan jumlah rakaat yang paling utama.

Disyariatkan kepada umat Muslim untuk mengerjakan shalat dhuha dengan rakaat genap. Mulai dari dua rakaat hingga seterusnya. Perbedaan mengenai jumlah rakaat shalat dhuha ini terbagi dalam tiga pendapat.

Jumlah Rakaat Maksimal

Pertama, jumlah maksimal rakaat dalam shalat dhuha adalah 8 rakaat. Pendapat ini diungkapkan oleh Mahdzab Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Dalil yang digunakan untuk menguatkan pendapat ini adalah hadits dari Umi Hani radhiyallahu ‘anha bahwasannya Nabi Shallallahu alaihi wasallam memasuki rumahnya ketika peristiwa fathul Makkah dan beliau shalat delapan rakaat. [HR. Bukhari dan Muslim]

Kedua, jumlah rakaat maksimal ada 12 rakaat dan merupakan pendapat dari Mahdzab Hanafi, Imam Ahmad, dan sebagian kecil Mahdzab syafii. Hadits yang mendasari pendapat ini diriwayatkan oleh Anas ra:

من صلى الضحى ثنتي عشرة ركعة بنى الله له قصرا من ذهب في الجنة

“Barangsiapa yang shalat dhuha 12 rakaat, Allah buatkan baginya satu istana di surga.”

Sayangnya hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al Mundziri ini dikategorikan sebagai hadits dhaif. Tirmidzi sendiri mengatakan bahwasannya hadits tersebut gharib (asing).

Sejumlah ahli hadits juga mendhaifkan hadits ini, diantaranya Al Hafidz ibn Hajar al Asqalani dan Syaikh Al Albani.

Ketiga, adalah tidak adanya batasan maksimal untuk shalat dhuha. Fatwa beberapa Imam dan ulama menjadi alasan pendapat yang terakhir.

Para Imam dan Ulama yang memfatwakan hal ini berkata bahwasannya tidak ada hadits yang membatasi shalat dhuha dengan rakaat tertentu.

Bahkan para sahabat dan tabiin tidak pernah mengatakan bahwa shalat dhuha dibatasi maksimal sebanyak 12 rakaat.

Kesimpulan yang bisa diambil dari ketiga pendapat diatas adalah rakaat shalat dhuha terbanyak yang dilakukan Rasulullah adalah 12 rakaat.

Meski begitu tidak ada hadits yang membatasi kalau jumlah maksimal shalat dhuha adalah 12 rakaat. Tidak adapula larangan untuk menambah jumlahnya. Sehingga pendapat yang benar adalah tidak adanya batasan rakaat dalam shalat dhuha.


Keutamaan Mengerjakan Sholat Dhuha


1. Mencukupkan sedekah sebanyak 360 persendian manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang artinya:

“Dalam diri manusia ada 360 persendian kemudian diwajibkan sedekah dari setiap sendinya.” Mereka bertanya, “Siapa yang mampu demikian wahai Nabi Allah?” beliau menjawab, “Memendam riak yang ada di masjid dan menghilangkan suatu (gangguan) dari jalanan. Apabila tidak mendapatkannya, maka shalat dhuha dua rakaat mencukupkanmu.”

2. Allah ta’ala menjaga orang yang shalat dhuha empat rakaat pada hari tersebut, seperti yang dijelaskan dalam hadits berikut yang artinya:

Dari Abu Darda atau Abu Dzar, dari Raasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, dari Allah subhanahu wa ta’aala berfirman: “Wahai bani Adam, shalatlah untuk Ku pada awal siang (sebanyak) empat rakaat, niscaya Aku akan menjagamu di sisa hari tersebut.”

3. Sholat dhuha merupakan shalatnya al awwabiin, yaitu orang yang banyak bertaubat kepada Allah. sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan dalam hadits riwayat Abu Hurairah berikut:

لايحافظ على صلاة الضحى الا اواب قال وهي صلاة الاوابين

“TIdaklah menjaga sholat dhuha kecuali orang yang banyak bertaubat kepada Allah.”

4. Mendapatkan pahala seperti haji dan umrah ketika shalat Isyraq (sholat dhuha di awal waktu).Sahabat Anas bin Malik ra, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa salam: “Seseorang yang shalat subuh secara berjamaah, lalu ia duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit. Lalu ia sholat dua rakaat, maka pahala yang didapatkannya seperti haji dan umrah.” Rasulullah SAW bersabda: “Sempurna, sempurna, sempurna.” [HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh AL Albani]

Keyword: Waktu Sholat Dhuha

Sara Apriana
About Sara Apriana 478 Articles
Lawan dari kaya adalah cukup, bukan miskin. Jadi sebetulnya ketika Allah menciptakan kita, rizki kita cukup, tidak ada yang miskin. Yang menjadikan kita miskin itu perasaan kita yang tidak pernah cukup. "dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberi kecukupan". (QS. An-Najm : 48) ~ Ust. Adi Hidayat

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.